Breaking News:

Daerah Gunungkidul

Weladalah, Wayang Beber Tinggal Dua Buah di Dunia

Satu gulungan lain yang disakralkan tak boleh dibuka

Weladalah, Wayang Beber Tinggal Dua Buah di Dunia - Sebelum_memainkan_Wayang_Beber_sang_dalang_mesti_melakukan_ritual_khusus_yang_berbeda_dengan_wayang_lain.jpg
TRIBUNJOGJA.COM/BUNAYYA DZIKRULLAH
Sebelum memainkan Wayang Beber sang dalang mesti melakukan ritual khusus yang berbeda dengan wayang lain

Laporan Wartawan Tribun Jogja : Bunayya Dzikrullah

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Wayang Beber adalah jenis wayang sangat langka, khas dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Bahkan perangkat wayangnya tinggal dua buah di belahan dunia ini. 

Wayang Beber yang terdapat di Gunungkidul tersebut bernama Wayang Beber Gelaran sesuai nama desa asalnya. "Ada satu lagi peninggalan wayang beber yang tersisa di daerah lain, terdapat di Pacitan Jawa Timur," ujar Ki Slamet Haryadi (61), pedalang Wayang Beber, Kamis (6/1/2011).

Ia sempat melancong hingga ke Myanmar untuk mementaskan warisan budaya yang tergolong langka tersebut. Pementasannya waktu itu mewakili Indonesia dalam festival wayang se-ASEAN pada Januari 2008 lalu. "Saya menginap tiga hari di sana, dari tanggal 9 hingga 12," tambahnya.

Pengalaman pertama kalinya pentas di luar negeri itu terasa istimewa dan sulit dilupakan. "Beberapa penonton festival yang sebagian besar warga Myanmar meminta saya berfoto bersama usai pementasan," kisahnya pada Tribun saat ditemui di rumahnya, Desa Wiladeg, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, DIY.

Ia menambahkan, penonton tersebut tertarik dengan cara pementasannya. "Belum tentu mereka mengerti bahasanya, tapi mereka antusias menonton bagaimana cara saya menceritakan kisah-kisah dalam wayang tersebut," lanjutnya. Sesekali ia menyanyikan tembang gubahannya sendiri di sela-sela lakonnya.

Wayang peninggalan masa pemerintahan Pakubuwono II (1727-1749) itu, selain tua juga tergolong unik sebab medianya berbeda dengan jenis wayang lainnya. "Seperangkat wayang Beber Gelaran berbahan dasar kertas panil atau kertas Ponorogo serta lukisan yang tertera di atasnya menggunakan cat sungging," jelasnya.

Satu set wayang berjumlah tujuh gulungan, dimana empat gulungannya merupakan satu kisah utuh berjudul "Remeng Mangunjaya". Sedangkan dua gulungan lain adalah fragmen-fragmen lakon Panji. "Ada satu gulungan lagi, namun sangat disakralkan sampai sekarang tak boleh dibuka," ujarnya. Secara usia, gulungan keramat inilah yang tertua.

Namun, ia beranggapan masih banyak warga Indonesia maupun Yogyakarta kesenian langka tersebut. "Kendala prasarana menjadi penyebabnya, perangkat wayang yang asli tidak bisa dipinjamkan atau dibawa ke tempat yang jauh dan terlalu lama," katanya. 

Ia menambahkan, Mbah Padma, sang pemilik wayang bahkan harus melakukan ritual khusus untuk membuka gulungan wayang dari tempat penyimpanannya.

Hal tersebut dibenarkan oleh Drs. Ristu Raharja, staf Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul. "Untuk sementara ini hanya ada satu set duplikat wayang Beber Gelaran di Taman Budaya Yogyakarta. Satu set tersebut yang dipakai Ki Slamet saat pentas di Myanmar," ujarnya.
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved