Daerah Sleman

Lumpur juga Labrak Rumah Kepala SD Bronggang

Rumah Kepala SD Bronggang turut tergenang nyaris selutut saat Mapolsek Cangkringan dihancurkan lahar

Lumpur juga Labrak Rumah Kepala SD Bronggang - IMG00374-20110104-1434.jpg
TRIBUNJOGJA.COM/ANUGERAH
Jalan raya di depan rumah Ahmad Hadiwiyono justru menjadi saluran pengirim lumpur ke rumahnya di Cangkringan (03/01/2011)
Lumpur juga Labrak Rumah Kepala SD Bronggang - IMG00376-20110104-1438.jpg
TRIBUNJOGJA.COM/ANUGERAH
Rumah bagian tengah milik Ahmad Hadiwiyono di Cangkringan (03/01/2011)
Laporan Wartawan Tribun Jogja : Anugerah


TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Rumah lantai dua milik kepala sekolah SD Bronggang turut tergenang lumpur.   

Kepala Sekolah Dasar Bronggang, Ahmad Hadiwiyono berjalan keluar dari rumahnya perlahan. Kakinya terlihat kotor terkena lumpur becek. "Capai sekali, seharian membersihkan rumah," ujarnya sambil tersenyum ramah.

Rumahnya tingkat dua dengan dinding bercat krem. Lumpur menutupi teras dan halaman depan rumahnya, sementara lantai dalam rumahnya masih becek oleh air bekas banjir lahar dingin luapan Kali Opak, Senin (03/01/2011) malam. "Semalam banjir sampai 25 sentimeter. Tadi membersihkannya manual saja, hanya pakai serokan dan cangkul," ujar Hadi sambil tertawa.

Dari Pemancingan Narimo seberang Mapolsek Cangkringan, yakni sisi barat Kali Opak, rumah Hadi berada sekitar 20 meter ke bawah ,karena jalan yang menurun curam. Selain itu, rumahnya juga persis di tusuk sate jalan tersebut. "Makanya rumah saya sampai kebanjiran seperti semalam," kata Hadi.

Pria berusia 58 tahun tersebut menceritakan, ia sangat kaget karena datangnya banjir lahar dingin sangat cepat. Ia mendapat peringatan dari relawan yang berada di daerah Merapi Golf bahwa banjir sudah meluap tinggi. "Lima menit kemudian sudah sampai rumah saya," ujarnya.

Ia mengatakan, Senin malam ia terpaksa mengungsi ke rumah kerabat di Teplok, Cangkringan. "Seluruh warga sini mengungsi. Ada yang ke shelter, daerah Panggung yang lebih tinggi, Kliwang, dan Teplok," ujar Hadi.

Mengenai murid di sekolah yang ia pimpin, Hadi mengatakan sengaja memulangkan mereka pukul 10.00 WIB, lebih cepat dari jadwal. Ia mengaku cemas melihat cuaca sangat mendung. Terlebih sehari sebelumnya ada banjir lahar dingin luapan Kali Opak. "Bahkan tadi ada orang tua yang mengusulkan untuk libur saja," jelasnya.

Bapak dua orang putra ini menjelaskan, SD Bronggang Baru merupakan SD dengan korban tewas terbanyak. "Ada delapan siswa saya yang tewas. Ada satu siswa lagi, Rizkia Ahadiah namanya. Kakinya luka bakar terkena wedhus gembel, sekarang masih dirawat di ICU RS Sardjito," Hal tersebut dikatakannya membuat siswa lain dan orangtua siswa trauma, sehingga lebih ketat dalam mengawasi anak.

"Berbeda dengan SD yang saya pimpin, SD Kruwang dan SD Banaran malah meliburkan siswanya," tambah Hadi. Kedua SD tersebut mengambil kebijakan untuk meliburkan siswanya Selasa (4/1) sampai Kamis (6/1), menunggu situasi lebih aman.

Hadi menceritakan, setelah situasi Cangkringan membaik awal Desember 2010 yang lalu, ia memberanikan diri memulai proses belajar mengajar di sekolah. "Waktu itu tanggal 6 Desember, Kepala Dinas sebetulnya belum memperbolehkan, namun sudah banyak orangtua murid yang meminta," ujar Hadi.

Kepala sekolah dasar standar nasional ini juga mengatakan, ia tidak meliburkan siswa saat liburan semester Desember lalu. "Seharusnya libur dua minggu, tapi kami pakai untuk mengejar materi yang ketinggalan akibat mengungsi," terang Hadi.

Tidak ada murid atau orang tua murid yang protes atas kebijakan itu. "Itu kebijakan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Sleman. Orang tua justru setuju karena anak sudah banyak ketinggalan materi," katanya.



Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved