Lifestyle
Bersepeda Ke Cagar Budaya Masjid Wotgaleh
Bersepeda Ke Cagar Budaya Masjid Wotgaleh, salah satu masjid tertua yang ada di Yogyakarta
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM - YOGYA - Penggemar olahraga sepeda di Yogyakarta dimanjakan dengan banyaknya rute asik yang melewati atau menuju ke beragam objek wisata baik wisata budaya, kuliner hingga wisata religi.
Salah satu rute asik yang bisa dijajal penggemar gowes adalah ke arah Berbah Sleman Yogyakarta.
Bila beberapa waktu lalu Tribun pernah menjelajahi objek wisata Candi Klodangan di daerah Berbah, kali ini tak jauh dari lokasi tersebut terdapat satu bangunan cagar budaya bernama Masjid Sulthoni Wotgaleh.
Untuk kesana rute bersepeda dari arah Kota Yogyakarta bisa melewati Jalan besar ke arah Solo atau melalui rute Blok O ke arah timur. Bila bersepeda santai dengan kecepatan 20 hingga 30 Kilometer perjam bisa ditempuh dengan waktu kurang lebih 45 menit.
Rute menuju objek wisata ini sudah ramai di atas pukul 07.00 WIB. Untuk itu disarankan pesepeda memilih berangkat sepagi mungkin agar bisa lebih menikmati suasana selama perjalanan.
• Mengenal Rr. Mahayu Koesoemo, Influenzer Medsos yang Hobi Menulis Puisi
Letak objek cagar budaya ini bisa dibilang antara urban dan suburban. Sehingga masih akan dijumpai kehidupan sehari hari masyarakat desa setempat.
Memasuki masjid ini, kita akan disajikan atmosfer pedesaan yang masih asri.
Sebuah papan nama yang cukup besar yang memuat informasi keberadaan cagar budaya ini terpasang tepat di jalan menuju Masjid ini.
Masjid Sulthoni Wotgaleh sendiri menurut literatur merupakan deretan masjid tua di Yogyakarta.
Di dalam komplek Masjid ini terdapat area pemakaman. Salah satu nya adalah makam Pangeran Purbaya atau Wotgaleh.
Lokasi makam ini tak jauh dari Bandara atau Lanud Adi Sucipto yang terletak di Jalan Raya Berbah, Sendangtirto, Berbah, Sleman.
• Pengikut Nabi Palsu Sensen Komara Tak Akui Prabowo Maupun Jokowi, Mereka Punya Presiden Sendiri
Menurut Surakso Slamet, juru kunci makam menuturkan, Pangeran Purbaya yang juga memiliki nama saat kecil Raden Damar adalah putra dari raja Mataram Islam pertama dari istrinya yang bernama Niken Purwosari atau Roro Lembayung bisa disebut Ratu Giring.
"Pangeran Purbaya saat itu menjadi senopati perang saat pemerintahan Sultan Agung hingga Amangkurat I. Tugasnya kemudian dilanjutkan oleh putranya bernama Pangeran Purbaya II yang dijuluki sebagai Banteng Mataram," terang Surakso.
Selain bisa mengetahui sejarah Cagar Budaya di komplek masjid ini.
Pengunjung juga bisa bersantai sejenak menikmati udara pagi yang relatif masih sejuk.
Bagi para pesepeda, usai menikmati keliling di area Cagar Budaya bisa melanjutkan perjalan ke arah timur untuk singgah di beberapa candi yang ada di sepanjang rute jalan Berbah. (Tribunjogja I Yudha Kristiawan)