Yogyakarta

Masuki Awal Musim Kemarau, BMKG Imbau Petani Sesuaikan Masa Tanam

Masuki Awal Musim Kemarau, BMKG Imbau Petani Sesuaikan Masa Tanam untuk Menghindari Kerugian.

Masuki Awal Musim Kemarau, BMKG Imbau Petani Sesuaikan Masa Tanam
Tribun Jogja/ Wahyu Setiawan Nugroho
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Mulyono Rahadi Prabowo saat ditemui usai pembukaan sekolah lapang iklim di Hotel Forriz, Yogyakarta, Senin (15/4/2019) kemarin.  

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut awal musim kemarau di DI Yogyakarta akan berlangsung pada dasarian 1-2 Mei 2019.

Sedangkan pada bulan April ini, kondisi masih memasuki pancaroba dengan potensi hujan masih bisa muncul terutama di sore hari meskipun dalam cakupan lokal, tidak merata dan tidak terus menerus.

Melihat kondisi tersebut, sektor pertanian menjadi salah satu yang harus merespon secara cepat terkait komoditas yang akan ditanam agar tak muncul kerugian atau bahkan gagal panen karena salah antisipasi cuaca/iklim.

Baca: Hujan Deras Disertai Angin Guyur Jetis Bantul

Menyikapi hal tersebut, Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono Rahadi Prabowo mengatakan petani diharapkan dapat mengantisipasi dan menyesuaikan proses tanam dengan melihat kondisi iklim tersebut.

"Empat faktor yang mempengaruhi pertanian, yaitu bibit, lahan, air dan yang keempat ini yang kita tak bisa atur yaitu iklim. Kita perlu manfaatkan celah-celah waktu kapan iklim itu kondusif dan bisa kita optimalkan dan jika kondisi kurang memungkinkan kita bisa mininalisir kerugian. Kapan iklim ekstrem, kapan tidak ekstrem, jika kondisi iklim kurang kondusif kita bisa mengatur komoditi apa yang akan kita tanam. Kita tanam padi atau jagung, kedelai dan komoditas lain yang memungkinkan jadi tergantung dari periode waktu, lebih panjang kemarau atau musim hujannya," katanya, Senin (15/4/2019) kemarin.

Baca: BMKG : Mulai Awal Mei, Wilayah DIY Memasuki Musim Kemarau

Selain itu, pihaknya juga menekankan sinergitas antara pihak BMKG dan Pemerintah setempat dalam hal ini yakni Dinas Pertanian untuk bisa saling komunikasi sehingga dapat memberikan rekomendasi terkait komoditas apa yang sesuai untuk ditanam.

"Kita juga menginginkan advice atau masukan dari pemerintah sehingga informasi yang kita sampaikan juga bisa benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat. Pelatihan informasi cuaca dan iklim kepada penyuluh ini juga kita harapkan bisa aplikatif," sebutnya.

Pihaknya berharap dengan adanya sinergitas tersebut, mampu membantu pertanian khususnya di wilayah DIY untuk meningkatkan produktivitas lahan pertanian dan meminimalisir adanya kegagalan panen yang berdampak pada tidak stabilnya harga pangan. (tribunjogja)

Penulis: Wahyu Setiawan Nugroho
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved