Yogyakarta

Kulon Progo Jadi Kabupaten dengan Kerawanan TPS Tertinggi di DIY

Tujuan dari dipetakannya TPS rawan ini adalah sebagai bahan pertimbangan titik mana yang memerlukan antisipasi lebih.

Kulon Progo Jadi Kabupaten dengan Kerawanan TPS Tertinggi di DIY
Ist
Pencoblosan Pemilu 2019 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Berdasarkan pemetaan yang dilakukan oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DIY, Kabupaten Kulonprogo menjadi kabupaten dengan tingkat kerawanan TPS tertinggi di DIY, dengan angka kerawanan mencapai 6,35% yang tersebar di 94 TPS.

Kerawanan TPS kedua ditempati oleh Kabupaten Sleman, yang mencapai 6,15% yang tersebar di 209 TPS. Selanjutnya diikuti Kota Yogyakarta mencapai 5,32% yang tersebar di 73 TPS.

Untuk Bantul menempati urutan keempat dengan 3,08% yang tersebar di 94 TPS. Terakhir di tempati oleh Kabupaten Gunungkidul dengan 3,03% yang tersebar di 82 TPS.

Baca: Bawaslu Kabupaten Magelang : 56 TPS Masuk Kategori Sangat Rawan

Amir Nasiruddin, Koordinator Divisi Pengawasan dan Hubungan Antar Lembaga Bawaslu DIY mengungkapkan, sebagai langkah antisipasi terjadinya potensi pelanggaran, pihaknya memang sudah memetakan TPS rawan di DIY.

Tujuan dari dipetakannya TPS rawan ini adalah sebagai bahan pertimbangan titik mana yang memerlukan antisipasi lebih.

"TPS rawan untuk melihat potensi gangguan pemungutan suara. Tujuan dari dipetakan TPS rawan sebagai bentuk pencegahan, dimana nanti akan menjadi petunjuk titik mana yang perlu dilakukan pengawasan lebih," terangnya saat dihubungi pada Selasa (16/4/2019).

Baca: Lonjakan Jumlah DPTb Bikin Kerawanan Kekurangan Surat Suara

Dia mengungkapkan jika dari pihaknya pada tanggal 6-11 April 2019 sudah melakukan pengumpulan data, dan di tanggal 10-13 April 1019 sudah dilakukan rekapitulasi.

Amir menjelaskan, dalam menyusun TPS rawan, terdapat 4 variabel dengan 10 indikator dalam memetakan TPS rawan.

Keempat variabel tersebut yakni, pertama penggunaan hak pilih/hilangnya hak pilih. Kedua kampanye. Ketiga netralitas dan keempat pemungutan suara.

Untuk penggunaan hak pilih, terdapat beberapa indikator, yakni terdapat pemilih DPTb dalam TPS rata-rata mencapai 26,12%, indikator pemilih DPK dalam TPS rata-rata mencapai 7,60%, indikator TPS dekat dengan rumah sakit mencapai 1,00%, indikator TPS dekat dengan perguruan tinggi rata-rata mencapai 2,01% dan indikator TPS dekat lembaga pendidikan (pesantren/asrama) mencapai 5,53%.

Untuk variabel kedua, kampanye terdapat dua indikator yakni, praktek pemberian uang atau barang pada masa kampanye di TPS rata-rata mencapai 0,87% dan praktek menghina/menghasut diantara pemilih terkait isu agama, suku, ras dan golongan di sekitar TPS mencapai 0,16%.

Baca: Bawaslu Bantul Petakan Potensi Kerawanan di TPS saat Pencoblosan

Untuk variabel ketiga, yakni netralitas dengan indikator petugas KPPS berkampanye untuk peserta pemilu mencapai 0,03%.

Variabel keempat pemungutan suara, terdapat dua indikator yakni TPS dekat dengan posko/rumah tim kampanye peserta pemilu mencapai 4,50% dan terdapat logistik/perlengkapan pemungutan suara mengalami kerusakan di TPS mencapai 0,04%.

"Dari semua indikator, semua data yang masuk diambil rata-ratanya. TPS rawan dengan 10 Indikator tertinggi Kulonprogo. Kalau IKP (Indeks Kerawanan Pemilu) itu tertinggi Sleman dan Kota Yogyakarta. Beda, kalau IKP itu lebih banyak indikatornya. TPS fokus ke menjelang hari H dan hari H," terangnya.

Dengan dipetakannya TPS rawan tersebut, Bawaslu DIY menghimbau kepada semua pihak, baik pengawas pemilu, Kepala KPU, Pemilih, Aparat Keamanan, Pemerintahan setempat dan Peserta Pemilu untuk bisa bersama-sama mengantisipasi hal-hal yang berhubungan dengan TPS rawan tersebut. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Siti Umaiyah
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved