Yogyakarta

Kepala BMKG Sebut Pemahaman Petani Soal Informasi Cuaca Perlu Ditingkatkan

Tak hanya itu, pengetahuan yang didapatkan juga dapat menstabilkan harga-harga bahan pangan yang diproduksi dalam negeri.

Kepala BMKG Sebut Pemahaman Petani Soal Informasi Cuaca Perlu Ditingkatkan
TRIBUNJOGJA.COM / Wahyu Setiawan
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati saat ditemui media di salah satu hotel di Kota Yogyakarta, Senin (15/4/2019). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Minimnya pengetahuan petani soal informasi cuaca dan iklim menyebabkan petani gagal mengantisipasi perubahan cuaca yang sewaktu-waktu dapat berubah.

Padahal menurut Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, Indonesia merupakan negara dengan daerah yang memiliki potensi bencana iklim yang tinggi.

"Bencana iklim ini berdampak pada berbagai aspek kehidupan termasuk sektor pertanian, akhirnya petani mengalami panen yang tidak maksimal bahkan sampai gagal panen karena salah memahami informasi cuaca," katanya saat ditemui media di salah satu hotel di Kota Yogyakarta, Senin (15/4/2019).

Baca: Tingkatkan Pemahaman Informasi Cuaca Petani di Bantul, BMKG Gelar Sekolah Lapang Iklim

Meminimalisir hal serupa, BMKG melakukan bimbingan baik kepada petani, nelayan bahkan penyuluh pertanian serta pemerintah daerah untuk meningkatkan pemahaman informasi cuaca dan iklim.

Salah satunya lewat Sekolah Lapang Iklim (SLI).

"Meningkatnya pemahaman informasi cuaca dan iklim ini, mampu mendukung segala bentuk kegiatan dari berbagai sektor, tak hanya pertanian namun juga perkebunan, pengairan, bahkan untuk antisipasi kebencanaan," sebutnya.

Lebih lanjut, Dwikorita berharap meningkatnya pemahaman soal cuaca dan iklim di berbagai lini masyarakat ini dapat berbanding lurus dengan hasil pertanian dan produktivitas dari berbagai sektor termasuk pertanian, perikanan dan kelautan.

Baca: Pemkot Yogyakarta Gelar Workshop Program Kampung Iklim

Tak hanya itu, pengetahuan yang didapatkan juga dapat menstabilkan harga-harga bahan pangan yang diproduksi dalam negeri.

"Jika bisa memahami informasi ini, bukan tak mungkin rekayasa pertanian bisa dilakukan. Contohnya bagaimana bawang merah bisa panen setiap tahun, kapan waktu tanam yang tepat untuk petani di Bantul, begitu juga kapan waktu yang tepat untuk petani di Brebes, jadi strategi budidaya ini bisa mewujudkan harga yang stabil dan ketahanan pangan di Indonesia," jelasnya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Wahyu Setiawan Nugroho
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved