Lifestyle

Perilaku Orangtua jadi Contoh yang Paling Baik Untuk Mengajarkan Sejak Dini Tertib Berlalulintas

Perilaku Orangtua jadi Contoh yang Paling Baik Untuk Mengajarkan Sejak Dini Tertib Berlalulintas

Perilaku Orangtua jadi Contoh yang Paling Baik Untuk Mengajarkan Sejak Dini Tertib Berlalulintas
Tribun Jogja/Yoseph Hary
Siswa PAUD belajar bersama polisi di balai desa Margosari Pengasih Kulonprogo, Kamis (1/10/2015). Kegiatan itu menjadi cara Polri mengampanyekan tertib lalu lintas sejak dini dengan cara menggandeng tujuh PAUD di desa itu. 

Laporan Reporter Tribun Jogja Yudha Kristiawan

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Rumus mengajarkan segala hal yang dirasa baik kepada anak adalah dimulai dari contoh yang dilakukan oleh orang tua. Misalnya, tidak baik terus menerus bermain smartphone, padahal orang tua sendiri di depan anak secara sadar atau tidak kerap asik dengan smartphone mereka.

Inilah setidaknya prinsip yang dipegang oleh Titin Kurnianingrum, perempuan dengan dua anak yang berprofesi sebagai seorang guru ini.

Bagi Titin, semua yang diajarkan kepada anak berawal dari contoh yang diberikan kepada orang tua. Selama orang tua melarang anak dan masih melakukan hal yang tidak boleh dilakukan oleh anaknya tersebut, kemungkinan anak untuk patuh akan sulit.

Pun demikian ketika hendak mengajarkan kebiasaan tertib berlalu lintas pada anak. Paling mudah adalah memberikan contoh kepada anak hal paling sederhana tentang tertib berlalulintas.

Baca: Musik jadi Media Healing Pasien

Misalnya ketika mengantar anak ke sekolah dan melewati lampu merah, bisa mulai diajarkan ke anak bahwa ketika lampu berwarna merah,para kendaraan harus berhenti, kuning berhati hati dan hijau kendaraan berjalan.

"Kalau ada orang menyeberang bukan di zebra cross kita bisa bilang ke anak kalau itu kurang tepat. Banyak contoh yang kita bisa ajarkan anak langsung saat berkendara di jalan," kata Titin.

Hal senada juga diungkapkan Widi Widiana, perempuan yang bekerja di salah satu jasa pengiriman barang ini menuturkan, relatif lebih mudah mengajarkan sejak dini ke anak agar menjadi pengguna jalan yang tertib berlalulintas. Hal ini sangat penting untuk membangun kesadaran bermasyarakat sejak dini.

Widi mencontohkan, pengalamannya sendiri ketika diprotes sang anak lantaran ia terburu-buru mengantar anak sekolah dan nekat menerobos batas waktu jalan kendaraan dan lampu saat itu berganti merah.

"Kadang pas lampu merah ada hitung waktunya , malah membuat kita nekat jalan,padahal sudah jelas tidak boleh dan bisa membahayakan diri sendiri dan pengendara lain. Atas nama buru-buru tidak boleh jadi pembenaran. Anak saya pernah protes karena saya begitu biar tidak terlambat masuk sekolah. Lalu saya sadar,kalau saya saja memberi contoh tidak baik, kelak bisa jadi anak meniru hal yang sama," kata Widi.

Baca: Kisah Luh Ariani, Penghuni Rumah Batu di Kaki Gunung Batur Bali

Widi menambahkan, mengajarkan anak tertib berlalulintas bisa juga melalui game edukatif atau permainan edukatif yang sudah banyak beredar di pasaran. Game game berbasis edukasi ini bisa diakses dengan mudah. Untuk permainan edukatif bertema lalu lintas juga sudah banyak ragamnya.

"Kalau game tentu tetap butuh pendampingan orang tua. Ini juga bisa membuat anak fun. Secara ngga sadar anak sudah belajar tertib berlalulintas. Untuk permainan edukatif bisa diajarkan ke anak sembari bermain barengan temannya," imbuh Widi.(tribunjogja)

Penulis: yud
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved