Jawa

Walikota Magelang : Hari Jadi 1.113 Kota Magelang Bukan Hura-hura, Tetapi Perenungan Diri

Pemkot Magelang terus berupaya menurunkan angka kemiskinan. Saat ini angka tersebut berangsur turun hingga kini mencapai sekitar tujuh persen.

Walikota Magelang : Hari Jadi 1.113 Kota Magelang Bukan Hura-hura, Tetapi Perenungan Diri
TRIBUNJOGJA.COM / Rendika Ferri
Walikota Magelang, Sigit Widyonindito, saat menjawab pertanyaan dari awak media pada acara jumpa pers menyambut Hari Jadi Kota Magelang ke 1.113 Tahun di Bond Cafe and Bakery, Rabu (10/4/2019). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri K

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Peringatan Hari Jadi Kota Magelang ke-1.113 ini diharapkan bukan hanya selebrasi saja, tetapi juga bentuk perenungan dan inspeksi diri dari Pemerintah Kota Magelang untuk membangun Kota Magelang menjadi kota yang lebih maju ke depan.

"Hari jadi adalah perenungan diri, inspeksi diri, kira-kira yang dilakukan setahun terakhir apakah sudah baik. Ulang tahun tak sekedar hura-hura, tetapi perenunhan diri. Apa yang belum kita rumuskan, kita rumuskan agar hasilnya lebih signifikan," ujar Walikota Magelang, Sigit Widyonindito, Rabu (10/4/2019), saat jumpa pers menyambut Hari Jadi Kota Magelang ke 1.113 Tahun di Bond Cafe and Bakery.

Baca: Menikmati Manis-Gurihnya Gurameh Bakar Ala Jambon Resto

Meski sudah berusia matang, masih terdapat pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan.

Satu di antaranya adalah angka kemiskinan.

Pemkot Magelang terus berupaya menurunkan angka kemiskinan.

Saat ini angka tersebut berangsur turun hingga kini mencapai sekitar tujuh persen.

"Di sisi lain pertumbuhan ekonomi kita terus meningkat, di angka lima sekian persen. Indeks gini juga. Meski kita tidak ada zona industri, tetapi kita harus mampu menarik peluang itu. Bagaimana masyarakat eks-Kedu, ada ketergantungan untuk ngangeni Kota Magelang, main di Magelang, yang selama ini sudah terjadi," katanya,

Menurut Sigit, semua capaian tersebut dapat terpenuhi dengan adanya partisipasi dari masyarakat.

Masyarakat memiliki rasa memiliki yang tinggi.

Baca: Pemkot Magelang Kemas Bangunan-bangunan Tua di Kota Magelang Jadi Destinasi Wisata Edukasi

Apapun kebijakan dari pemerintah, jika masyarakat tidak mendukung bisa kurang optimal.

"Partisipasi masyarakat tinggi. Rasa memiliki baik darj masyarakat. Apapun kebijakannya, kalau masyarakat tidak mendukung ya kurang optimal. Seperti menata PKL, memang bermasalah, tetapi akhirnya dapat diselesaikan. Kita juga mendapatkan penghargaan pasar terbaik difabel. Pamrihnya untuk rakyat," katanya.

Sigit pun berkeinginan mengulang sukses tahun 2015 dengan mengusung program Ayo ke Magelang.

Tagline-nya adalah Magelang Moncer Serius, Magelang Modern Cerdas Sejahtera dan Religius.

"Kotanya modern, produktif, bersih kotanya, santun masyarakatnya. Ini akan mampu memberikan semangat, kita boleh maju, cerdas, berhasil, produktif, tetapi juga harus religius." katanya. (*)

Penulis: rfk
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved