Bisnis

Meski Punya Potensi, Pengusaha Kelapa di DIY Dinilai Belum Memiliki Keberanian Merambah Skala Besar

Hanya saja, para pelaku di dalamnya, selama ini dianggap belum memiliki keberanian yang cukup, untuk membuka usaha dengan skala besar.

Meski Punya Potensi, Pengusaha Kelapa di DIY Dinilai Belum Memiliki Keberanian Merambah Skala Besar
Istimewa
Suasana Temu Mitra Koperasi Kelapa yang digagas oleh Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, di Hotel Jayakarta, Yogyakarta, Jumat (5/4/2019) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - DIY sejatinya dinilai memiliki potensi dalam usaha produksi kelapa.

Hanya saja, para pelaku di dalamnya, selama ini dianggap belum memiliki keberanian yang cukup, untuk membuka usaha dengan skala besar.

Syaukani, dari PT Kerambil Hijau, selaku narasumber dalam Temu Mitra Koperasi Kelapa yang digagas oleh Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, di Hotel Jayakarta, Yogyakarta, Jumat (5/4/2019) berujar, tidak adanya keberanian tersebut, karena alasan keterbatasan produksi 50 ton per minggu.

"Padahal sebenarnya bisa ya. Tidak bisa dipungkiri, di Yogyakarta ini, kelemahannya banyak diskusi, tetapi tidak ada yang berani mengeksekusi," ujarnya.

Baca: Serikat Petani Kelapa Sawit Kritik Perluasan Plasma Prabowo dan Tanggapi Program B100 Jokowi

"Jadi, perlu ada keberanian, termasuk dengan cara membentuk kelompok, atau plasma, untuk menutup kekurangan pasokan bahan baku. Bagaimanapun, usaha kelapa ibarat tidak ada matinya," tambah Syaukani.

Ia mengungkapkan, daerah Kalibawang, Kulonprogo banyak terdapat pohon kelapa yang jaraknya sangat memungkinkan ditempuh hanya dengan sepeda motor.

Hal itu, berbanding terbalik dengan kondisi daerah lain, seperti di Nusa Tenggara Barat (NTB).

"Ya, di sana itu, untuk mengirim bahan baku kelapa saja, harus dengan perjalanan laut selama lebih kurang sembilan jam," ungkapnya.

Baca: Batik Kibasan Sabut Kelapa dari Bantul Pakai Bahan Pewarna Alami

Syaukani yang memiliki pabrik pengolahan kelapa menjadi minyak, serta VCO, atau Virgin Coconut Oil, di Pakem, Sleman tersebut mengatakan, semua usaha memang tidak bisa berjalan instan, dalam artian langsung mencapai titik kesuksesan.

"Namanya usaha, itu pasti ada jatuh bangun. Tetapi, jangan berhenti ketika jatuh. Pertama pasti rugi, tidak apa-apa. Jika jatuh, kemudian langsung menutup usahanya, maka modalnya hilang," pesannya.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM, Victoria Simanungkalit mengatakan, ajang Temu Mitra Koperasi Kelapa ini merupakan upaya untuk meningkatkan daya saing UKM dan Koperasi, agar mampu bersaing.

"Pertemuan ini juga dimaksudkan untuk konsolidasi, terutama untuk koperasi kelapa, sekaligus mengubah mindset petani. Ya, karena mereka tidak hanya menjadi petani, tapi juga bisa terjun ke industri pengolahan kelapa menjadi minyak dan VCO," pungkasnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: aka
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved