Bisnis

OJK Imbau Pelaku UMKM Akses Pendanaan Gotong Royong On-Line untuk Kredit Produktif

OJK DIY mengimbau kepada pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang mengakses kredit di Fintech Peer to Peer Lending (p2p lending)

OJK Imbau Pelaku UMKM Akses Pendanaan Gotong Royong On-Line untuk Kredit Produktif
TRIBUNJOGJA.COM / Yosef Leon Pinsker
Sejumlah pelaku UMKM mengikuti pelatihan UMKM Jogja Go Digital yang diselenggarakan di Hotel Sheraton Mustika Yogyakarta, Senin (1/4). 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY mengimbau kepada pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang mengakses kredit di Fintech Peer to Peer Lending (p2p lending) atau skema Pendanaan Gotong Royong On- Line agar digunakan untuk kebutuhan produktif.

Kebutuhan permodalan memang menjadi salah satu permasalahan pelaku UMKM untuk berkembang, maka itu dengan mengakses kredit alternatif pada Pendanaan Gotong Royong On- Line yang kini marak beredar diharapkan skala usaha UMKM dapat bertumbuh.

Kabag Pengawasan Industri Keuangan Non Bank (INBK) Pasar Modal dan Efek OJK DIY, Noor Hafid mengatakan, UMKM menjadi salah satu tulang punggung dalam menopang pertumbuhan ekonomi daerah, dengan demikian kehadiran Pendanaan Gotong Royong On- Line ikut pula mendukung dan mengembangkan kapasitas usaha UMKM.

Baca: Bantu Pengembangan UMKM, Pertamina Sediakan Kredit dengan Bunga Rendah

Ia juga menyatakan, kehadiran Pendanaan Gotong Royong On- Line yang menawarkan kemudahan dan kecepatan dalam mengakses kredit membuat pelaku usaha tertarik dan mulai beralih dari akses kredit perbankan konvensional.

Namun yang perlu dicermati, sambung dia, pelaku UMKM jangan menjadikan kemudahan dan kecepatan yang ditawarkan tadi sebagai celah untuk memanfaatkannya bukan untuk kebutuhan pengembangan usaha.

"Jangan digunakan untuk kredit konsumsi tapi pergunakanlah untuk kebutuhan yang produktif. Perkembangannya memang terus meningkat, namun kecenderungannya masih digunakan untuk kebutuhan konsumtif. Makanya harapan kita UMKM bisa masuk tapi tetap harus hati-hati dan bijak," kata dia, disela kegiatan UMKM Jogja Go Digital, Senin (1/4/2019).

Hafid melanjutkan, setiap pelaku UMKM juga mesti memperhatikan setiap aturan dan ketentuan yang ditetapkan oleh pelaku Pendanaan Gotong Royong On- Line serta cermat sewaktu mengakses pinjaman, sehingga hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari bisa diminimalisir.

"Jangan sampai dijadikan lubang. Nanti jadi gali lubang tutup lubang," imbuhnya.

UMKM Go Digital

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM DIY, Srie Nurkyatsiwi menjelaskan, UMKM di DIY sampai dengan akhir tahun 2018 lalu berjumlah sekitar 258.000 dengan lebih dari 90% merupakan pelaku usaha dengan skala mikro dan jenis usaha yang beragam terbagi atas sektor kuliner, kriya dan fashion.

Baca: BI Kpw DIY Mendorong UMKM Jogja Go Digital

Dari angka tersebut sebagian besar masih belum belum melakukan pemasaran secara daring.

Sementara dari mitra Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) ada sebanyak kurang lebih 3000 pelaku usaha dan sebanyak 76,4% nya sudah memanfaatkan pemasaran daring.

Meski pemanfaatan telah cukup tinggi, namun berdasarkan hasil survey tingkat pengelolaan UMKM terhadap media masih sangat rendah. Media jarang diupdate dan tidak dikelola dengan baik.

"Memang perlu dikawal dan terus dilakukan pembinaan lebih lanjut. Karena memang permasalahan UMKM ini ada beberapa hal selain masih kurangnya SDM dan teknologi, dari sisi pemasaran dan kelembagaan juga masih kurang. Makanya kolaborasi multi pihak juga kita lakukan," urainya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved