Yogyakarta

Penyebab Terbesar Penularan HIV/Aids di DIY Karena Faktor Seks Bebas

KPA DIY menyebutkan gaya hidup dan maraknya prostitusi di DIY menjadi salah satu faktor penyebab kenaikan angka pengidap penyakit HIV/Aids.

Penyebab Terbesar Penularan HIV/Aids di DIY Karena Faktor Seks Bebas
Ist
Ilustrasi HIV 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto

TRIBUNJOGJA.COM - Komisi Penanggulangan Aids (KPA) DIY menyebutkan gaya hidup dan maraknya prostitusi di DIY menjadi salah satu faktor penyebab kenaikan angka pengidap penyakit HIV/Aids.

Penularan terbesar saat ini didominasi melalui hubungan seks bebas.

“Dibandingkan dengan tahun lalu, kenaikan pengidap penyakit ini mencapai 200 hingga 300. Kalau naik pasti naik terus,” jelas Sekretaris KPA DIY, Riswanto, Kamis (21/3/2019).

Riswanto menjelaskan, beberapa faktor penyebab penularan penyakit ini di antaranya adalah gaya hidup tidak sehat seperti penggunaan jarum suntik narkotika dan obat-obatan terlarang serta hubungan seks bebas.

“Sudah sejak dulu-dulu ada. Kesadaran masyarakat untuk mengurangi kegiatan nakal susah sekali. Yang seperti ini orang senang dan menimbulkan penyakit berbahaya,” urainya.

Baca: Komisi Penanggulangan Aids Susun Strategi Tangani Kasus HIV/Aids di Yogyakarta

Dia menyebutkan, pengidap HIV/Aids dari pengguna jarum suntik narkotika sudah menurun. Saat ini tercatat ada 365 pengguna napza yang juga mengidap HIV/Aids. Di tahun 2009 lalu ada sekitar 6.000an pengguna yang juga mengidap penyakit ini.

“Dari data kami, pengidap paling banyak dari hubungan sex. Mirisnya, penularannya kemudian merambah pada ibu-ibu rumah tangga dan anak-anak balita,” urainya.

Saat ini, pengidap penyakit ini didominasi oleh warga Kota, Sleman, Bantul, Gunungkidul, Kulonprogo. Pihaknya pun melakukan antisipasi dengan nantinya ada bandara baru di Kulonprogo. Hal ini karena perkembangan bandara ini akan membawa dampak positif sekaligus negatif.

Baca: Pengidap HIV/Aids di DIY Cukup Tinggi, Dinas Kesehatan Waspadai Penularan Terhadap Ibu Rumah Tangga

“Memang perlu dipersiapkan warga sekitar bandara harus sudah ada yang memberikan sosilisasi soal bahaya HIV/Aids.  Nomor duanya, perlu juga diantisipasi karena banyak pekerja-pekerja dari luar DIY dan lain sebagainya,” jelasnya.

Adapun untuk anggaran penanggulangan penyakit ini mencapai Rp 500 juta per tahun. Pihak KPA pun berkoordinasi dengan masing-masing OPD untuk  penanganan hal ini. Pihaknya pun akan melakukan workshop pengetahuan melalui TNI.

“Nantinya Tni melalui kegiatan TMMD bisa memberikan sosialisasi mengenai bahaya penyakit HIV/Aids pada masyarakat,” ujarnya. (tribunjogja)
 

Penulis: ais
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved