5 Sosok Penting Saksi Kunci Penyerahan Supersemar, Soekarno Tegaskan Bukan Transfer Kekuasaan

Soekarno menegaskan Supersemar bukan alat Transfer Kekuasaan kepada Soeharto. Inilah saksi kunci penandatanganan hingga penyerahan Supersemar

5 Sosok Penting Saksi Kunci Penyerahan Supersemar, Soekarno Tegaskan Bukan Transfer Kekuasaan
IPPHOS - Dok. Kompas/Song via kompas.com
Ilustrasi (Kolase) 

5 Sosok Saksi Kunci Lahirnya Supersemar, Soekarno Tegaskan Bukan Transfer Kekuasaan

TRIBUNJOGJA.COM - Proses lahirnya Surat Perintah 11 Maret atau Supersemar hingga kemudian sampai ke tangan Soeharto, tidak lepas dari keterlibatan, paling tidak dengan sepengetahuan, lima tokoh nasional saat itu.

Siapa saja mereka, disebutkan para tokoh ini sempat terlibat dalam rapat kabinet di Istana Merdeka, pada Jumat, 11 Maret 1966, yang konon sebagai awal lahirnya Supersemar.

Namun karena saat itu Presiden Soekarno yang sedang memimpin rapat dalam kondisi terkepung oleh mahasiswa, ia dikabarkan meninggalkan lokasi dan menuju Istana Kepresidenan Bogor.

Di Istana Bogor itu lah kemudian segala kemungkinan berkaitan dengan penandatangan Supersemar, polemik isi perintahnya dan juga penyerahan kepada Soeharto disaksikan beberapa tokoh penting di sekitar Soekarno.

Baca: Detik-detik sebelum Presiden Soekarno Wafat, Lirih Mengucap Allah Seiring Napas Terakhir.

Baca: Sekilas Kisah di Balik Misteri dan Kontroversi Supersemar, Mandat Soekarno pada Soeharto

Dikutip tribunjogja.com dari kompas.com, Istana Kepresidenan Bogor memang menjadi saksi bersejarah penting bagi kepemimpinan presiden pertama RI Soekarno.

Pada 11 Maret 1966, Soekarno disebut memberikan "surat sakti" kepada Soeharto yang dikenal sebagai Surat Perintah 11 Maret atau Supersemar.

Surat itu berisi persetujuan Soekarno agar Soeharto mengambil langkah yang dianggap perlu untuk memulihkan keamanan setelah Gerakan 30 September 1965 yang dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia.

Bermodalkan Supersemar, Soeharto tidak hanya memulihkan keamanan, tetapi juga secara perlahan mengambil alih kepemimpinan nasional.

Soeharto kemudian ditunjuk sebagai pejabat presiden setahun kemudian, Maret 1967, berdasarkan ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara No XXXIII/1967 pada 22 Februari 1967.

Akan tetapi, Presiden Soekarno membantah memberikan Supersemar sebagai alat untuk transfer kekuasaan kepada Letjen Soeharto yang ketika itu menjabat Menteri Panglima Angkatan Darat.

Halaman
1234
Editor: ose
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved