Bantul

Silaturahmi Kebangsaan, Ulama Punya Peran Persatukan Bangsa

Polres Bantul bekerjasama dengan FKUB Bantul dan Pondok Pesantren Bin Baz Piyungan Bantul menggelar silaturahmi kebangsaan.

Silaturahmi Kebangsaan, Ulama Punya Peran Persatukan Bangsa
Tribun JOgja/ Wahyu Setiawan Nugroho
Wujudkan toleransi dan kerukunan serta menyukseskan Pemilu 2019, Polres Bantul, Kantor Urusan Agama, FKUB Bantul dan Ponpes Bin Baz menggelar silaturahmi kebangsaan di Aula Ponpes Bin Baz Piyungan Bantul, Senin (18/2/2019) sore. 

TRIBUNJOGJA.COM - Menanggapi merebaknya isu intoleransi jelang Pemilu 2019, Polres Bantul bekerjasama dengan FKUB Bantul dan Pondok Pesantren Bin Baz Piyungan Bantul menggelar silaturahmi kebangsaan di Aula Ponpes Bin Baz Piyungan Bantul, Senin (18/2/2019) sore.

Langkah ini menjadi upaya pihak pemerintah dan elemen masyarakat untuk memotong isu intoleransi dan radikalisme yang merebak akhir-akhir ini.

Sinergitas dan jalinan kerjasama yang kuat diperlukan antarstakeholder. Termasuk ulama dan pesantren bersama pemerintah.

Sudiasih JW, Kanit Bintibmas Polres Bantul mengatakan ulama dan pondok pesantren memiliki andil yang besar untuk menjadi roda yang mewujudkan kerukunan antar umat beragama.

Baca: Razia Miras, Polsek Gondokusuman Amankan Puluhan Botol Miras Oplosan Rasa Susu

Langkah kuratif ini sebagai cara untuk memberi penjelasan-penjelasan secara tegas tentang fungsi ulama-pesantren bagi masyarakat dan bangsa, sekaligus peringatan bersama akan bahaya radikal-terorisme, radikal-intoleransi yang dapat memecah belah bangsa.

"Ulama, santri dan semua warga negara semua harus menerima perbedaan. Negara ini ada karena perbedaan dan kita harus mengakui itu, semua tidak harus sama," katanya kepada TribunJogja.com.

Pihaknya mengajak, tak hanya santri namun juga ulama untuk terus menggelorakan persatuan dan kesatuan di tengah perbedaan. Ia menganggap ranah agama dan berbangsa memiliki kepentingan masing-masing yang berbeda tujuan.

"Ulama punya peran yang besar untuk mencegah hal ini bisa melalui kajian yang bersumber pada Alquran dan Alhadis, mimbar-mimbar yang dihadiri ribuan jamaah dan dakwah-dakwah yang bisa dilakukan oleh ulama," katanya dalam acara yang dihadiri ratusan santri dan elemen masyarakat ini.

Lebih lanjut pihaknya menjelaskan, ranah agama merupakan urusan pribadi namun urusan berbangsa dan bernegara sudah menjadi kewajiban warga negara untuk saling menjaga toleransi dengan saling tolong menolong.

Baca: Pemilu 2019, KPU Gunungkidul Butuhkan 19.026 Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara

"Indonesia hadir dengan beragam agama. Negara ini melindungi setiap agama. Namun negara tak membatasi cara beribadah dan berdakwah agama tersebut," katanya.

Sementara itu, pengasuh ponpes Bin Baz Piyungan Bantul, Abu Nida mengatakan ulama seharusnya konsentrasi pada pembenahan akidah dan akhlak bukan malah ikut campur dalam masalah politik.

"Kalau kami tegas tidak ikut campur politik, Ponpes punya tanggung jawab besar membina santri dan menyampaikan bagaimana berakidah dan berakhlak yang baik. Kalau ikut politik bisa bubar ponpesnya," kata Nida dikesempatan yang sama.

"Tanggung jawab kita (ulama) berat membuat akhlak umat baik, sholat baik, puasa baik akhlak baik, pemilu itu musiman kalau kita gontok-gontokan politik dan kalah nanti hanya kecelik," tambahnya.

Pihaknya berkali-kali menekankan bahwa pihaknya dan ponpes tak berafiliasi dengan calon maupun partai apapun. Pihaknya mengaku tunduk dan patuh terhadap semua yang akan menjadi pemimpin negeri ini kedepannya.

"Siapapun yang bakal menang nanti, kita akan taat sebagai warga negara. Kita hanya ingin siapapun yang jadi supaya agama ini tetap dijaga, jangan malah dipersempit," pungkasnya. (tribunjogja)

Penulis: Wahyu Setiawan Nugroho
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved