Jawa

Sehari Tiga Berita Hoaks Diproduksi dan Dikonsumsi Masyarakat

Oleh karena itu, masyarakat harus cerdas memilah-milah perkataan yang dilontarkan oleh para calon dan menangkap fakta yang sebenarnya.

Sehari Tiga Berita Hoaks Diproduksi dan Dikonsumsi Masyarakat
TRIBUNJOGJA.COM / Rendika Ferri K
Ketua Presidium Mafindo, Septiaji Eko Nugroho, memberikan materi terkait bahaya hoaks di depan blogger, vlogger, penggiat media sosial di Kabupaten Magelang, Senin (18/2/2019) di sosialisasi pengawasan pemilu oleh Bawaslu Kabupaten Magelang, di Hotel Atria, Kota Magelang. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri K

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Setahun kurang lebih ada sebanyak 987 berita bohong atau hoaks yang diproduksi pada tahun 2018.

Jika dihitung per hari, maka terdapat tiga berita hoaks yang tersebar dan dikonsumsi oleh masyarakat sehari-hari.

Parahnya, 49-50 persen hoaks yang ada, hoaks politik yang paling banyak beredar.

Hal ini dinilai sangat memprihatinkan, karena telah merusak kualitas demokrasi di Indonesia.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Septiaji Eko Nugroho, Senin (18/2/2019) di acara Sosialisasi Pengawasan Pemilu oleh Bawaslu Kabupaten Magelang, di Hotel Atria Kota Magelang.

Baca: Cegah Berita Hoaks, Mafindo Luncurkan Hoax Tools Buster

"Tahun 2018 lalu, kita menghitung berita bohong atau hoaks sebanyak 987 buah. Sehari, ada tiga berita hoaks yang kita makan dan sebarkan. Parahnya 49-50 persen, hoaks yang beredar di kita terkait hoaks politik. Ini menyedihkan, hoaks politik merusak kualitas demokrasi kita," ujar Septiaji.

Septiaji mengatakan, berita bohong atau hoaks ini banyak beredar bisa disebabkan oleh literasi masyarakat yang masih rendah, sehingga masyarakat menjadi mudah percaya terhadap berita hoaks dan tanpa sadar turut menyebarkannya.

Terlebih saat pertumbuhan internet yang pesat. Jumlah pengguna internet di Indonesia saja sekarang sebanyak 130 juta penduduk, tetapi sayangnya dengan jumlah pengguna sebesar itu, tidak diimbangi dengan kepatuhan masyarakat dalam menggunakan rambu-rambu atau kode etik menggunakan internet.

"Literasi kita ini masih rendah. Sudah sebanyak 130 juta penduduk yang menggunakan internet, dan akan terus bertambah. Sayangnya pertumbuhan koneksi internet, tidak diimbangi kita menggunakan rambu-rambu atau kode etik menggunakan internet," kata Septiaji.

Halaman
123
Penulis: rfk
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved