Yogyakarta

Batik Pertama dengan Motif Proses Pembuatan Batik Tulis Karya Indrawati Gondowinoto Raih Penghargaan

Batik kain katun berukuran 270cm x 105 cm ini menggambarkan proses pembuatan batik Pekalongan dari awal hingga akhir.

Batik Pertama dengan Motif Proses Pembuatan Batik Tulis Karya Indrawati Gondowinoto Raih Penghargaan
TRIBUNJOGJA.COM / Noristera Pawestri
Batik kain katun berukuran 270cm x 105 cm ini menggambarkan proses pembuatan batik Pekalongan dari awal hingga akhir ini berhasil meraih penghargaan Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) kategori Batik Pertama dengan Motif Proses Pembuatan Batik Tulis. 

Laporan Reporter Tribun Jogja Noristera Pawestri

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Indrawati Gondowinoto, Pengrajin Batik asal Yogyakarta ini berhasil meraih penghargaan Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) kategori Batik Pertama dengan Motif Proses Pembuatan Batik Tulis.

Batik kain katun berukuran 270cm x 105 cm ini menggambarkan proses pembuatan batik Pekalongan dari awal hingga akhir.

Alat-alat membatik pun juga digambarkan secara jelas dan detail dalam batik ini.

Indrawati atau Iin sapaannya menuturkan, dalam batik ini ada 19 proses dalam membuat Batik Pekalongan.

Baca: Palagan Tentara Pelajar Punya Galeri Batik dan Tempat Kuliner Baru

"Kalau di Pekalongan, setelah tahapan selesai batik dihaluskan pakai kerang. Juga ada Teknik Ngetel menggunakan air merang. Sebagian masih ada yang melakukan sebagian tidak," ujarnya pada Kamis (14/2/2019).

Proses pembuatan batik tersebut kata dia membutuhkan waktu selama enam bulan untuk menyelesaikannya.

Lanjutnya, ketika memproduksi batik pun ia juga tidak asal membuat, namun juga sarat akan filosofinya.

"Batik saya tidak asal membuat, tapi saya bayangkan jaman dulu itu membatik di rumah saya itu pakai bajunya seperti apa, dandannnya seperti apa," katanya.

Ia menceritakan, inspirasi untuk membuat batik tersebut berawal dari rasa prihatin yang muncul dari dalam dirinya karena tidak banyak masyarakat yang mengetahui keberadaan batik warisan milik keluarganya.

"Saya miris karena melihat batik keluarga saya tidak ada yang tahu, padahal di eranya sangat terkenal," ujarnya ketika ditemui di sela-sela acara bincang-bincang Batik Pengaruh Budaya Tionghoa di Hartono Mall.

Baca: Sambut Hari Hari Bhakti Imigrasi ke 69, Kantor Imigrasi Yogyakarta Ajak WNA Membatik

Pola pada batik tersebut ia dapatkan dari desain pola coretan di kertasbmilik eyang buyutnya yang ia simpan.

"Saya simpan pola-polanya dari situ saya belajar dari awal. Saya pikir kalau mau merepro kan harus bisa membatik. Saya masuk Sekar Jagad kemudian saya mulai membatik lagi. Keinginanan untuk bisa meneruskan batik keluarga saya itu semakin besar," kata dia

Hingga saat ini sudah ada sebanyak 20 batik yang ia hasilkan, ke depan Iin akan membuat batik repro yang seluruhnya menceritakan tentang keluarga nya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Noristera Pawestri
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved