Bantul

Bantul Belajar ke Sumsel Karena 'Galau' Angka Kemiskinan

Edwar menjelaskan sebelum tahun 2000, banyak orang ketika berkunjung ke Palembang atau Sumatera Selatan paling lama sehari atau dua hari.

Bantul Belajar ke Sumsel Karena 'Galau' Angka Kemiskinan
TRIBUNJOGJA.COM / Ahmad Syarifudin
Assisten III Pemprov Sumsel Edwar Julianta menunjukkan ruang Command center kepada Assisten III Bidang SDM dan Kesra Pemkab Bantul Drs Totok Sudarto MM di gedung Pemprov Sumsel, Palembang Rabu (13/2/2019) siang. 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Kemiskinan di Kabupaten Bantul masih cukup tinggi yakni berada pada kisaran angka 14 persen.

Angka ini jauh diatas angka kemiskinan nasional yaitu 10,64 persen.

Namun anehnya angka harapan hidup di Bantul termasuk DIY cukup tinggi.

Begitu pula angka kebahagiaan warganya, termasuk tinggi.

"Itu yang membuat kami galau. Kami ini bahagia tapi kok kemiskinan tinggi. Sehingga kami memutuskan studi tiru, bukan studi banding. Karena belum ada yang bisa kami bandingkan. Dan dari informasi yang kami dapat, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan adalah salah satu daerah yang berhasil menekan angka kemiskinan sehingga kami belajar kemari," kata Drs Totok Sudarto MM selaku Assisten III Bidang Sumberdaya Manusia dan Kesra, Pemerintah Kabupaten Bantul saat melakukan kunjungan ke Pemrov Sumatera Selatan di Jalan A Rivai, Kota Palembang, Rabu (13/2/2019).

Baca: MTCC UMY dan Warga DK II Kersan Bantul Inisiasi Dusun Bebas Asap Rokok

Turut mendampingi dalam kunjungan tersebut adalah staf Humas dan Protokol Pemkab Bantul serta puluhan wartawan yang tergabung dalam Forum Pewarta Bantul.

Kunjungan dari Bantul diterima oleh Assisten III Pemerintah Provinsi Sumsel, Edwar Juniarta, Plt Karo Humas Iwan Budiman dan juga sejumlah jajaran OPD terkait.

"Saya berharap dari hasil belajar ini akan ada ilmu dan juga strategi yang kita dapat. Dan akan kita aplikasikan di Kabupaten Bantul tentu dengan prinsip Ki Hajar Dewantara yaitu niru, niteni, nambahi. Tentu disesuaikan dengan kondisi wilayah dan potensi yang kami miliki," lanjut dia.

Sementara itu, Edwar menjelaskan sebelum tahun 2000, banyak orang ketika berkunjung ke Palembang atau Sumatera Selatan paling lama sehari atau dua hari.

Hal itu karena tidak banyak tempat yang bisa dikunjungi. Waktu itu Plaza juga belum ada.

Halaman
123
Penulis: Ahmad Syarifudin
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved