Sleman

Sebagian Besar Bendungan di Sleman Sudah Berusia Tua

UPT PSDA Wilayah Tengah DPUPKP Sleman Wahyudi menyatakan sebagian besar bendungan di Sleman sudah uzur alias berusia tua.

Sebagian Besar Bendungan di Sleman Sudah Berusia Tua
Tribun Jogja/ Alexander Ermando
Kondisi Kali Kuning pasca jebolnya lantai Bendung Samberembe di Dusun Sambirejo, Selomartani, Kalasan, Sleman 

Laporan Reporter Tribun Jogja Alexander Ermando

TRIBUNJOGJA.COM - UPT PSDA Wilayah Tengah DPUPKP Sleman Wahyudi menyatakan sebagian besar bendungan di Sleman sudah uzur alias berusia tua.

Termasuk Bendungan Samberembe di Dusun Sambirejo, Selomartani, Sleman yang jebol di bagian lantainya.

Wahyudi menjelaskan bahwa Bendungan Samberembe dibangun pada era 1970-an. Namun menurutnya, ada sejumlah bendungan yang usianya lebih tua dari itu.

"Bahkan ada beberapa yang dibangun dari tahun 60-an, termasuk dari era kolonial," terang Wahyudi saat ditemui di Bendungan Samberembe, Selasa (12/02/2019).

Baca: Jebolnya Dinding Bendungan Kali Kuning Berdampak pada Pertanian

Ia juga menyebut bahwa tidak semua bendungan di Sleman dikelola oleh UPT PSDA. Sebagian kecil dikelola oleh desa secara mandiri.

Sejumlah bendungan berusia uzur pun bahkan disebutnya masih berfungsi sangat baik, termasuk kondisi pintu airnya.

"Ada sekitar 835 bendungan yang kami kelola, sisanya jadi kewenangan desa," ujar Wahyudi.

Mengingat usia bendungan yang sudah tua, struktur bangunannya tentu sudah tidak sekokoh sebelumnya. Namun Wahyudi memastikan bahwa pihaknya rajin melakukan pengecekan.

Proses pengecekan dilakukan setiap tahunnya. Proses tersebut juga termasuk mengevaluasi kondisi terkini dari bendungan.

Baca: Lokasi Jebolnya Lantai Bendungan Kali Kuning Jadi Tontonan Warga

Terkait Bendungan Semberembe, ia menjelaskan bahwa rehabilitasi sempat dilakukan pada 2012 pasca-erupsi Merapi. Namun proses tersebut tidak sampai ke bagian di lantai bendungan.

"Nah kemarin itu karena aliran airnya juga membawa material yang banyak, lantainya jebol lantaran tidak kuat menahan beban," jelas Wahyudi.

Ia pun menolak jika peristiwa kemarin disebut sebagai fenomena alam. Menurutnya kejadian tersebut murni karena kondisi bangunan yang sudah berumur.

Saat ini, proses perbaikan terhadap lubang tersebut masih terus dilakukan. Nantinya lubang tersebut akan dicor. Wahyudi pun berharap prosesnya bisa selesai secepatnya.

"Kalau bisa dalam waktu seminggu sudah selesai, sebab airnya dibutuhkan untuk irigasi," kata Wahyudi.(tribunjogja)

Penulis: Alexander Aprita
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved