Bisnis

Fashion Show 1000 Sarong, Upaya Naikkan Kelas Kain Sarung

Diharapkan sarung dapat menggantikan peran celana berbahan denim/jins yang saat ini banyak digunakan masyarakat untuk beraktivitas.

Fashion Show 1000 Sarong, Upaya Naikkan Kelas Kain Sarung
TRIBUNJOGJA.COM / Wahyu Setiawan
Ratusan model berlenggak-lenggok dalam Malioboro Fashion Show 1000 Sarong dalam rangkaian Jogja Heboh yang memamerkan karya sarung yang didesain kreatif dan cocok untuk segala aktivitas sehari-hari, di Jalan Margo Mulyo Malioboro Yogyakarta, Minggu (10/2/2019). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sarung biasanya hanya dijadikan untuk kegiatan religi serta acara-acara yang bersifat tradisional.

Namun rupanya saat ini sarung pun bisa menjadi kain yang fashionable dan cocok digunakan untuk berbusana sehari-hari.

Melihat keunggulan tersebut, Jogja Heboh lewat rangkaian acaranya bertajuk Malioboro Fashion Show 1000 Sarong ingin mengangkat kain sarung yang menjadi identitas bangsa Indonesia sejak puluhan tahun lalu tersebut menjadi sebuah tren dan gaya busana baru di kalangan masyarakat.

Dilaksanakan, Minggu (10/2/2019) sore di dekat titik nol Yogyakarta tepatnya Jalan Margo Mulyo/Depan Benteng Vredeburg, Malioboro Fashion Show 1000 Sarong ingin mengenalkan tentang cara berbusana baru terhadap kain sarung yang biasanya dikenal hanya sebagai kain pelengkap aktivitas masyarakat tersebut.

Baca: Jadi Inspektur Upacara HUT ke-73 RI di MIN 1 Bantul, Cak Imin Kenakan Sarung dan Sepatu Kets

Bahkan diharapkan sarung dapat menggantikan peran celana berbahan denim/jins yang saat ini banyak digunakan masyarakat untuk beraktivitas.

HR Gonang Djuliastono, Ketua Panitia Jogja Heboh 2019 mengatakan dipilihnya titik nol serta Malioboro sebagai lokasi acara tak lain adalah untuk memasyarakatkan kain sarung agar lebih terlihat trendy dan masa kini dengan sentuhan seni para desainer asal Kota Gudeg.

"Titik nol menjadi pusat wisata, banyak wisatawan lokal berkumpul dititik ini sehingga upaya kita untuk memasyarakatkan sarung ini diharapkan dapat terwujud," katanya saat ditanya TribunJogja.com sebelum acara.

Selain itu, sarung, kata Gonang, memiliki kekhasan yang sesuai dengan tradisi dan corak yang khas dengan budaya yang ada di Indonesia.

Kain sarung yang dipamerkan dalam fashion show on the street tersebut, telah mendapat sentuhan seni dari para tangan kreatif para seniman desainer pakaian sehingga sarung dapat terlihat lebih kekinian dan cocok digunakan di segala acara.

Baca: Mahasiswa UGM Kembangkan Sarung Tangan Penerjemah Bahasa Isyarat

"Selain bercorak khas tradisional, kain sarung yang dipamerkan juga banyak yang memiliki corak yang warna-warni dengan desain lebih universal sehingga cocok untuk kegiatan apapun," lanjutnya.

Ia berharap dengan adanya fashion show yang mengangkat kain sarung ini dapat mengangkay kelas dari sarung yang tadinya hanya digunakan untuk aktivitas didalam rumah tapi dapat menjadi bagian dari pakaian untuk segala aktivitas.

Ada sekitar lebih dari 500 model yang memeragakan pakaian menggunakan sarung tersebut dengan masing-masing model memamerkan dua karya sarung dari desainer yang ada di Kota Yogya.

"Puluhan asosiasi, masyarakat, komunitas, himpunan, sekolah bahkan kepolisian dan difabel ikut meramaikan hajatan ini," tambah Gonang.

Baca: Sarung Mini Skirt Produk Zara Diprotes Netizen Bhurma

Sementara itu, Heroe Poerwadi, Wakil Walikota Yogyakarta menuturkan dengan diangkatnya kaim sarung sebagai bagian dari tren berbusana dapat mengangkat ekonomi kreatif yang ada di Kota Yogyakarta.

"Ini menjadi awal dan pengungkit bergeraknya ekonomi kreatif yang mengangkat sarung sebagai bagian dari dunia kreatif. Lewat sentuhan kreativitas dapat menjadikan sarung tak hanya menjadi pelengkap pakaian bawah saja tapi juga tren berbusana yang cocok untuk berbagai kegiatan, ini akan menambah nilai dari sarung itu sendiri," tutupnya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Wahyu Setiawan Nugroho
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved