Gunungkidul

Bawaslu Gunungkkidul Himbau Penyandang Disabilitas Didampingi KPU Saat Pemungutan Suara

Mereka dapat didampingi oleh relawan demokrasi atau kelompok penyelenggara pemungutan suara.

Bawaslu Gunungkkidul Himbau Penyandang Disabilitas Didampingi KPU Saat Pemungutan Suara
brailleworks.com
ilustrasi 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Wisang Seto Pangaribowo

TRIBUNJOGJA.COM,GUNUNGKIDUL - Badan Pengawas Pemilu (bawaslu) menghimbau kepada masyarakat yang membutuhkan pendampingan pada hari pemungutan suara agar didampingi oleh pendamping dari Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Komisioner Pengawas, Humas, dan Antar Lembaga Bawaslu Gunungkidul, Rosita menuturkan, jika ada masyarakat yang membutuhkan pendampingan saat pemilihan suara, terutama masyarakat berkebutuhan khusus, dapat meminta pendampingan dari KPU.

Mereka dapat didampingi oleh relawan demokrasi atau kelompok penyelenggara pemungutan suara.

"Karena kalau dari KPU yang mendampingi mereka sudah jelas netral, jangan didampingi anggota keluarga karena anggota keluarga tersebut belum tentu netral," katanya pada Tribunjogja.com, Minggu (10/2/2019).

Dengan didampingi seseorang yang netral, maka diharapkan tidak terjadi intervensi terhadap masyarakat khususnya masyarakat penyandang disabilitas.

Karena penyandang disabilitas rentan diintervensi saat pemungutan suara.

"Jika ada intervensi langsung laporkan kepada pengawas, kalau ada bentuk intervensi itu sudah ranah pidana. Yang berwenang adalah pihak kepolisian, karena ada penegakkan hukum terpadu (gakkumdu)," ujarnya.

Ia menuturkan berdasarkan pengalaman pemilihan kepala daerah maupun pemilu di Gunungkidul sendiri belum ada laporan terkait dengan adanya intervensi saat pemungutan suara.

"Di Gunungkidul sendiri belum ada laporan, saya harap tidak ada laporan terkait hal tersebut," imbuhnya.

Baca: Bawaslu Bolehkan Kampus Dirikan TPS Agar Mahasiswa Tak Golput

Sementara itu, Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kabupaten Gunungkidul, Untung Subagyo menuturkan, penyandang disabilitas tuna netra membutuhkan kertas pemungutan suara dengan huruf braile.

"Teman-teman tuna netra terbiasa menggunakan huruf braile jadi mereka membutuhkan itu pada surat suara," imbuhnya.

Ia menuturkan saat ini belum ada laporan adanya penyandang disabilitas yang diintimidasi harus memilih satu di antara calon saat pemilu.

"Pengalaman dari pemilu-pemilu yang lalu belum ada laporan saya harap tidak ada hal seperti itu di Gunungkidul, apalagi selama ini didampingi oleh KPU jika memerlukan bantuan saat pemungutan suara," pungkas dia. (*)

Penulis: Wisang Seto Pangaribowo
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved