Bisnis

Perekonomian Yogyakarta Tumbuh 6,20 Persen Sepanjang 2018

Pertumbuhan positif dilatar belakangi meningkatnya aktivitas pembangunan bandara baru NYIA serta masifnya proyek pembangunan fisik di wilayah DIY.

Perekonomian Yogyakarta Tumbuh 6,20 Persen Sepanjang 2018
IST
ilustrasi

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Yogyakarta berhasil mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang gemilang di sepanjang 2018 lalu.

Pertumbuhan ini tumbuh cukup pesat dibandingkan dengan angka yang diperoleh sepanjang tahun 2017 lalu.

Badan Pusat Statistik (BPS) DIY merilis, pertumbuhan ekonomi wilayah setempat tumbuh senilai 6,20 persen meningkat dibandingkan dengan 2017 lalu yang berada pada angka 5,26 persen.

“Secara sektoral pertumbuhan tersebut dimotori oleh lapangan usaha konstruksi yang tumbuh 13,1 persen dan pertambangan penggalian yang juga tumbuh sebesar 10,6 persen,” kata Kepala BPS DIY, Johanes De Britto Priyono, Rabu (6/2/2019) di kantor BPS DIY.

Baca: Kawasaki W175 Cafe Bakal Jadi Idola Baru Pecinta Motor Retro

Hal tersebut diakibatkan oleh meningkatnya aktivitas pembangunan bandara baru NYIA serta masifnya proyek pembangunan fisik di wilayah DIY.

Di sisi lain, penopang utama pertumbuhan sisi pengeluaran adalah komponen ekspor luar negeri yang tumbuh 12,8 persen dan pembentukan modal tetap bruto yang juga tumbuh melesat sebesar 10,2 persen.

Sementara pada sisi sumber pertumbuhan ekonomi, sektor konstruksi juga menjadi penyumbang terbanyak dengan angka 1,25 persen sepanjang 2018 lalu.

Namun demikian, Ia menyampaikan bahwa terdapat perlambatan pada sektor usaha industri pengolahan yang hanya tumbuh 5,12 persen di 2018.

Baca: Soal Jalan Tol, Pemprov DIY Minta Harus Perhatikan Simpul Perekonomian

Nilai tersebut turun dibandingkan dengan 2017 lalu yang berada pada capaaian 5,74 persen.

Dia menjelaskan bahwa, terdapat beberapa fenomena yang mengakibatkan industri pengolahan melambat, yakni karena faktor melambatnya pertumbuhan industri pengolahan pada industri kulit dan barang dari kulit yang disebabkan adanya perusahaan yang tidak beroperasi lagi pada 2018.

“Sementara penurunan industri kayu disinyalir karena menurunnya permintaan domestik dan luar negeri untuk kebutuhan ekspor,”  jelasnya. (*)

Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved