Kesehatan

Kasus Kanker di DIY Cukup Tinggi, Didominasi Kanker Payudara dan Serviks

Kanker masih menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia.

Kasus Kanker di DIY Cukup Tinggi, Didominasi Kanker Payudara dan Serviks
TRIBUNJOGJA.COM / Victor Mahrizal
Hyatt People bersama dengan Eka, pimpinan YKAKJ dalam aksi dukungan terhadap pejuang kanker, bertajuk "Berani Gundul", yang diadakan Minggu (3/2/2019), di Jogja City Mall. 

TRIBUNJOGJA.COM - Kanker masih menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia.

Padahal jika mengetahui cara deteksi dini yang tepat, penyakit tersebut dapat dengan mudah dihindari.

Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang DIY mencatat bahwa, tren penderita kanker di wilayah setempat dari tahun ke tahun selalu mengalami kenaikan.

Meskipun tidak membeberkan data konkret, YKI mengklaim kondisi tersebut diakibatkan oleh masih minimnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit kanker.

Wakil Ketua I YKI Cabang DIY, Sunarsih mengatakan, jenis penyakit kanker dengan penderita tertinggi di wilayah DIY yakni kanker payudara dan kanker leher rahim (serviks).

Baca: Antisipasi Penyebaran DBD, Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul Himbau Warga Tanam Bunga Lavender

Baca: Sempat Pingsan dan Dirawat di Rumah Sakit, Vanessa Angel Kini Dipindah ke Ruang Tahanan

Umumnya, kedua jenis kanker tersebut dikatakannya cenderung lamban disadari oleh para penderita.

Dijelaskannya, untuk jenis kanker leher rahim biasanya ada sejumlah gejala yang akan ditemukan semisal pendarahan yang tidak wajar dari vagina meskipun tidak dalam kondisi haid, masa menstruasi yang lebih panjang, nyeri pada bagian panggul, kehilangan nafsu makan, dan lain sebagainya.

Sementara untuk kanker payudara, ciri yang paling kentara yakni munculnya berupa tonjolan dengan tekstur yang keras di bagian dada. Benjolan tersebut juga akan tetap ada setelah delapan sampai 10 hari masa menstruasi.

"Kebanyakan yang terjadi setelah terdapat gejala tersebut korban enggan untuk memeriksakan diri ke dokter. Banyak dari mereka yang malah periksa ke pengobatan alternatif atau klinik-klinik terapi. Di situ yang sebenarnya salah," ungkap Sunarsih. (tribunjogja)

Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved