Cerita Pelukis Babad Diponegoro Alami Peristiwa Aneh di Tempat Diponegoro Ditawan, Didatangi Kijang

Karya lukis Setyo Priyo Nugroho tentang sepotong kisah gerilya Pangeran Diponegoro di sekitar Bagelen, Purworejo, ini terasa kuat mencekam

Cerita Pelukis Babad Diponegoro Alami Peristiwa Aneh di Tempat Diponegoro Ditawan, Didatangi Kijang
Kolase SETYA KS | Dokrpi SETYO PRIYO
Pelukis Setyo Priyo Nugroho dan rekannya, Mumu Lemu, berpose di depan lukisan karyanya berjudul "Tepeng" 

Cerita Pelukis Babad Diponegoro Alami Peristiwa Aneh di Tempat Diponegoro Ditawan, Didatangi Kijang

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Karya lukis Setyo Priyo Nugroho tentang sepotong kisah gerilya Pangeran Diponegoro di sekitar Bagelen, Purworejo, ini terasa kuat mencekam.

Diponegoro duduk di batu besar, mengenakan jubah dan sorban serba putih. Matanya sangat awas memperhatikan hewan buas di hadapannya. Wajahnya tampak tenang, setenang usahanya menenteramkan abdi dalemnya, Banteng Wareng dan Joyosutro.

Kedua abdi dalem itu tampak ketakutan di belakang sang pangeran. Joyosuroto menggenggam tombok kalacakra, sementara Banteng Wareng berjongkok di kiri belakang
Diponegoro.

Tangan kanan Diponegoro menahan tangan Joyosuroto, yang seolah hendak melemparkan tombak ke arah harimau besar yang melintas di depan mereka. Seekor kijang betina
merapat ke arah tiga orang itu, tak kalah jirihnya.

Demikianlah, adegan mencekam yang terjadi di hutan Wanalarban, ditulis dalam Pupuh XXXIX (Pucung) Babad Diponegoro oleh Pangeran Diponegoro yang bernama kecil Raden
Mustahar.

Lukisan berjudul “Tepeng” berukuran 1150x200 cm itu dipajang di lantai dua Jogja Gallery, bagian dari Pameran Sastra Rupa Gambar Babad Diponegoro. Event bersejarah ini
akan berlangsung hingga 24 Februari.

Setyo Priyo Nugroho berhasil menuangkan kisah itu dalam kanvas lewat perjuangan tak mudah.

“Saya ini sudah lima tahun tak pernah pegang kuas. Tugas mengajar telah menyita segalanya,” kata dosen seni rupa Institut Seni Indonesia (ISI) ini.

“Jadi bisa dibayangkan, setelah lima tahun vakum, harus membuat karya yang tidak main-main. Tapi, setelah siang malam, bahkan kadang saat tidur tiba-tiba terbangun
karena rasanya segera harus membuat apa, akhirnya selesai juga,” katanya.

Lukisan cat minyak itu diselesaikannya beberapa hari sebelum pameran dibuka, 1 Februari 2019.

Pelukis Setyo Priyo Nugroho dan rekannya, Mumu Lemu, berpose di depan lukisan karyanya. Wajah keduanya muncul dalam lukisan di belakangnya lewat sosok abdi dalem.
Pelukis Setyo Priyo Nugroho dan rekannya, Mumu Lemu, berpose di depan lukisan karyanya. Wajah keduanya muncul dalam lukisan di belakangnya lewat sosok abdi dalem. (DOK PRIBADI SETYO PRIYO)
Halaman
1234
Penulis: xna
Editor: iwe
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved