Gunungkidul

Ribuan Kartu Tani di Gunungkidul Belum Dapat Digunakan

Sejak digulirkannya aturan Kartu Tani tersebut pada tahun 2017 hingga saat ini belum ada kepastian kapan kartu tersebut dapat digunakan.

Ribuan Kartu Tani di Gunungkidul Belum Dapat Digunakan
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
Berita Gunungkidul 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Wisang Seto Pangaribowo

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Ribuan Kartu Tani belum bisa difungsikan, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul pasrah kepada Pemerintah Provinsi DIY.

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan tugas dari kabupaten hanyalah sebatas pengusulan dan pendataan saja.

"Untuk masalah Kartu Tani kewenangan sepenuhnya ada di Provinsi, tugas dari pemkab hanya sebatas pendataan kepada petani yang mendapat saja. Provinsi juga berwenang dalam menentukan jumlah pupuk bersubsidi yang nantinya diberikan kepada petani," ucapnya pada Tribunjogja.com, Minggu (3/2/2019).

Ia menuturkan sejak digulirkannya aturan Kartu Tani tersebut pada tahun 2017 hingga saat ini belum ada kepastian kapan kartu tersebut dapat digunakan.

Menurutnya, di Gunungkidul sendiri sudah puluhan ribu Kartu Tani yang sudah diberikan kepada petani.

"Informasi terakhir yang saya dapat untuk penggunannya masih menunggu hasil percontohan penggunaan Kartu Tani di Kulon Progo. Saat ini petani untuk menebus pupuk masih menggunakan cara lama yaitu menebusnya lewat kelompok tani masing-masing," katanya.

Menurutnya cara seperti itu akan tetap dilakukan hingga Kartu Tani dapat digunakan.

Jika nantinya kartu tani sudah difungsikan, akan ada perbedaan dalam distribusi pupuk kepada para petani.

"Kalau sudah difungsikan nantinya petani akan mengisi sejumlah uang di bank, terus petani tinggal mengambil jatah pupuk subsidi di distributor yang telah ditunjuk," katanya.

Seorang petani asal Nglipar, Sugeng mengatakan, dirinya telah mendapatkan Kartu Tani, namun masih belum dapat digunakan.

Ia juga tak mengetahui kenapa Kartu Tani tersebut belum dapat digunakan.

"Belum bisa digunakan tidak tahu kenapa. Kalau sudah berlaku sepertinya agak sedikit ribet dibandingkan dengan cara distribusi saat ini karena harus mengisi uang di bank jadi modelnya harus deposit dulu. Lebih enak cara lama petani tinggal menebus di kelompok-kelompok tani," katanya.(*)

Penulis: Wisang Seto Pangaribowo
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved