Otomotif

Ajang Klangenan dan Nostalgia, Intip Alasan Lain Pilih Restorasi Motor Bebek Lawas

Ajang Klangenan dan Nostalgia, Intip Alasan Lain Pilih Restorasi Motor Bebek Lawas

Ajang Klangenan dan Nostalgia, Intip Alasan Lain Pilih Restorasi Motor Bebek Lawas
Tribun Jogja/ Wahyu Setiawan Nugroho
Tren restorasi motor bebek klasik saat ini tengah digandrungi. Motor bebek dua tak besutan Yamaha yakni Alfa II R juga menjadi primadona 

TRIBUNJOGJA.COM - Tren restorasi atau mengembalikan bentuk asli motor klasik keluaran tahun 1960-1990an tampaknya kini tengah banyak digemari.

Alasannya bermacam, mulai dari untuk koleksi pribadi hingga untuk klangenan atau nostalgia.

Kendati biasanya saat ini motor tua produksi tahun tersebut sudah terbatas, tak diproduksi lagi, susah dicari dan kondisi yang ala kadarnya namun menurut Agung Tedjo, penggila restorasi asal Kota Yogyakarta menuturkan hal tersebut lah yang membuat penggila restorasi menikmati proses hingga hasilnya.

Baca: KA Malabar Jurusan Malang- Bandung Anjlok di Ciamis, Bukan Gerbong Penumpang

"Akan ada kebanggan tersendiri saat menggunakan kendaraan klasik ini di jalan," katanya kepada TribunJogja.com belum lama ini.

Agung Tedjo, penggila restorasi motor klasik asal Kota Yogyakarta ini mengaku bangga bisa memiliki kendaraan klasik dengan bentuk dan fungsi yang hampir sama seperti keluaran pertama kendaraan tersebut.

Tren restorasi motor bebek klasik saat ini tengah digandrungi. Motor bebek dua tak besutan Yamaha yakni Alfa II R juga menjadi primadona.
Tren restorasi motor bebek klasik saat ini tengah digandrungi. Motor bebek dua tak besutan Yamaha yakni Alfa II R juga menjadi primadona. (Tribun Jogja/ Wahyu Setiawan Nugroho)

"Proses mengembalikan fungsi dari yang apa adanya menjadi berfungsi normal, itu menjadi kebanggaan tersendiri," tuturnya lagi.

Selain itu, pilihan motor tahun lawas pun kadang menjadi pertimbangan sendiri bagi para pecinta restorasi.

Baca: Gandeng PT. KAI, Tiket Prameks Kini Bisa Dibeli Lewat Tcash

"Biasanya pilihan tahun atau motor yang akan direstorasi memiliki hubungan personal dengan pemilik, entah klangenan, atau memang suka dengan performanya," tuturnya.

Tak hanya itu, memilih merestorasi kendaraan lawas ketimbang membeli baru, kata Agung, ialah masalah nilai dari kendaraan tersebut.

"Motor klasik jadi limited, barang ini semakin langka dan pasti jadi pembeda dari motor yang lain," pungkasnya.(tribunjogja)

Penulis: Wahyu Setiawan Nugroho
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved