Jawa

Petani Bawang Putih di Magelang Belajar Iklim di Sekolah Lapang Iklim

Ia mengatakan, air juga berpotensi penyebaran hama karena itu petani harus bisa mengawasai perkembangan hama agar bisa dikendalikan.

Petani Bawang Putih di Magelang Belajar Iklim di Sekolah Lapang Iklim
IST
Puluhan petani bawang putih di Desa Candisari, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, mengikuti Sekolah Lapang Iklim (SLI) - Sosialisasi Agroklimat oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Rabu (30/1/2019). 

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Puluhan petani bawang putih di Desa Candisari, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, mengikuti Sekolah Lapang Iklim (SLI) - Sosialisasi Agroklimat yang diadakan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Rabu (30/1/2019).

Mereka belajar tentang iklim dan pemanfaataannya untuk peningkatan produksi pertanian.

"Kami berharap para pertani ini dapat memahami cuaca/iklim dan dapat beradaptasi terhadap usaha pertanian apabila terjadi dampak iklim ekstrim seperti banjir dan kekeringan, yang kerap menimbulkan kerugian bagi petani," jelas Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Semarang BMKG, Tuban Wibisono, Rabu (30/1/2019) di sela-sela pembukaan SLI di Desa Candisari, Kecamatan Windusari, Kebupaten Magelang.

Baca: Bawang Putih, Antioksidan dan Detoks Alami yang Lebih Sehat Dimakan saat Perut Kosong

Tuban mengatakan, informasi dan prakiraan cuaca, iklim, musim perlu dipahami oleh para petani.

Salah satunya melalui pendidikan non-formal atau pertemuan dan pengalaman proses belajar berdasarkan kebutuhan lokal.

"SLI menjadi suatu pendekatan yang memberdayakan petani untuk memahami dan memanfaatkan informasi tentang cuaca/iklim/musim secara efektif dalam pertanian. Ini merupakan studi lapangan berorientasi pada program praktis yang memberikan kesempatan petani untuk belajar bersama," katanya.

Sementara itu, Deputi Klimatologi BMKG Herizal,mengatakan, iklim ekstrim yang terjadi saat ini menyebabkan dampak pada masa tanam tanaman pertanian.

Pola dan masa tanam perlu dipahami dan diterapkan oleh petani untuk mencegah kerugian.

Baca: Pesta Panen Bulak Lawas, Tanda Syukur Petani Bantul Karena Hasil Bumi Melimpah

Ia mengatakan, air juga berpotensi penyebaran hama karena itu petani harus bisa mengawasai perkembangan hama agar bisa dikendalikan.

"Musim hujan awal Agustus 2018 lalu mundur sekitar 40 hari, maka harus ada penyesuaian pola tanam,jika petani tak paham maka bisa merugi," jelasnya.

Dalam SLI ini petani mengikuti daur belajar melalui pengalaman, yaitu melakukan (mengalami), mengungkapkan, menganalisa, menyimpulkan dan menerapkan kembali.

Materinya, mulai dari tanaman pangan, program pengendalian kekeringan dan banjir, mengenal alat-alat klimatologi, hingga memahami proses pengataman menggunakan alat ukur sederhana.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Magelang Tri Agung, menyambut baik adanya SLI bagi petani bawang putih di desa lereng Sumbing ini.

Sebagaimana diketahi bahwa bawang putih telah menjadi komoditas utama di kawasan pertanian seluas 85 hektar tersebut.

"Hampir 85 persen Indonesia masih impor, devisa terserap untuk impor, yang diuntungkan tentu importir. Oleh karena itu pemerintah sedang menggalakkan kembali bawang putih. Melalui SLI ini maka petani bawang putih dapat belajar meningkatkan kemampuannya," ujarnya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: rfk
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved