Bahana TCW Konservatif Sikapi Pasar di Tahun 2019

Saat ini, arus modal asing telah mulai kembali masuk ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Bahana TCW Konservatif Sikapi Pasar di Tahun 2019
istimewa
Presiden Direktur BTIM, Edward Lubis saat memberikan pemaparan dalam kegiatan temu media dengan tema Surfing The Market Pendulum, Selasa (29/1/2019). 

TRIBUNJOGJA.COM, JAKARTA - Perusahaan aset management plat merah, Bahana TCW Investment Management (BTIM), akan bersikap konservatif dalam menargetkan pertumbuhan dana kelolaan pada tahun 2019.

Hal ini ditengarai akibat dari meredanya fluktuasi pasar finansial negara berkembang yang telah dimulai sejak awal tahun.

Presiden Direktur BTIM, Edward Lubis, mengatakan kondisi pasar finansial Indonesia tahun 2019 akan masih menghadapi sejumlah tantangan di sepanjang triwulan satu dan dua.

Saat ini, ungkap Edward, arus modal asing telah mulai kembali masuk ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Hal ini didorong dengan adanya sentimen global yang meragukan pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat yang terlihat dari menurunnya suku bunga obligasi AS.

Di samping itu, harga minyak dunia yang turun turut pula mendongkrak rupiah kembali menguat terhadap dolar sejak triwulan akhir 2018 lalu.

“Pasar finansial Indonesia memang jauh lebih baik dibandingkan tahun 2018 lalu. Namun, ada persepsi investor yang masih enggan untuk menempatkan investasi di pasar saham dan obligasi karena menunggu perkembangan pasar. Perlu waktu untuk membangun optimisme investor kembali. Sehingga Bahana memproyeksikan pertumbuhan yang konservatif pada tahun ini,” jelas Edward dalam pertemuan dengan media pada tema 'Surfing The Market Pendulum', Selasa (29/1/2019) kemarin.

Senada Edward, Direktur Strategi Investasi dan Kepala Makroekonom BTIM, Budi Hikmat, menyatakan walaupun menghargai respon kebijakan pemerintah namun fundamental ekonomi Indonesia masih belum sepenuhnya aman dari sentimen global.

"Penguatan pasar finansial saat ini masih ditopang dari modal asing yang masuk dan juga penurunan harga minyak. Sementara indikator penguatan daya beli masih belum meyakinkan," ujarnya. (*)

Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved