Bisnis

JIFFINA 2019 Dongkrak Industri Mebel dan Kerajinan Lokal

JIFFINA 2019 yang hadir untuk ke empat kalinya ini, diluncurkan pada Jumat (25/1/2019) malam bertempat di Royal Ambarukmo.

JIFFINA 2019 Dongkrak Industri Mebel dan Kerajinan Lokal
TRIBUNJOGJA.COM / Yosef Leon Pinsker
Asisten Sekda DIY Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Tri Saktiyana (kanan) bersiap memukul gong tanda diluncurkannya JIFFINA 2019 yang ke empat, pada Jumat (25/1/2019) malam di Royal Ambarukmo. 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Jogja International Furniture & Craft Fair Indonesia (JIFFINA) 2019 siap dihadirkan pada medio Maret mendatang dengan tema 'The Inovation Lifestyle for Sustainable Forest'.

JIFFINA 2019 yang hadir untuk ke empat kalinya ini, diluncurkan pada Jumat (25/1/2019) malam bertempat di Royal Ambarukmo.

Ketua Committee JIFFINA 2019, Endro Wardoyo mengatakan, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi momen yang tepat dalam mendorong kemajuan bagi industri mebel dan kerajinan lokal.

Baca: Pria Asal Sleman Ubah Limbah Kayu Jadi Mebel Kualitas Ekspor

Disamping itu Endro berujar, akan banyak sektor ekonomi lain yang akan ikut terdongkrak selama empat hari (13-16/3/2019) kegiatan tersebut dilaksanakan, seperti hotel, transportasi, kuliner, dan lainnya.

"Kami harap JIFFINA 2019 juga bisa menjadi barometer pameran internasional yang berada di daerah. Akan banyak pengunjung yang hadir dari dunia internasional sehingga mampu menggerakkan ekonomi lokal," sebutnya.

Endro menargetkan, akan ada sekitar 4.500 pembeli yang hadir pada kesempatan tersebut, naik dari kunjungan taun lalu yang ada diangka 3.800 pengunjung.

"Komposisinya lebih banyak dari nasional pada tahun lalu hampir sekitar 60 persen dan tahun ini kami ingin lebih banyak kunjungan dari luar negeri, makanya promosi ke luar sudah gencar kami lakukan," tambahnya.

Baca: Menilik Kondisi Perajin Genting di Sentra Kerajinan Genting Godean

Sementara untuk transaksi, pihaknya berharap akan terjadi sebanyak US$80 juta selama pameran berlangsung dan US$160 juta untuk transaksi lanjutan.

Asisten Sekda DIY Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Tri Saktiyana mengungkapkan, kiblat industri mebel dan kerajinan dalam dekade 1970 an akhir masih berpusat pada negara-negara Eropa.

Memasuki era 1990 an, pasar Asia mulai menjadi pemimpin dengan China sebagai motor utama.

Saat ini, dikatakan Sakti, China menjadi negara pengekspor mebel dan kerajinan terbesar di dunia dengan nilai transaksi mencapai USD52 miliar.

Sementara Indonesia masih tertinggal jauh dengan negara-negara Asia Tenggara lain dengan capaian senilai USD$1,7 miliar.

"Maka dari itu kegiatan ini kami pikir bisa menjadi pionir dalam menggerakkan dunia ekspor mebel Indonesia," katanya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved