Gunungkidul

Hamil Di Luar Nikah Penyebab Utama Dispensasi Nikah Usia Dini

Banyaknya kasus hamil di luar nikah pada usia anak memicu banyaknya angka dispensasi nikah di Kabupaten Gunugkidul.

Hamil Di Luar Nikah Penyebab Utama Dispensasi Nikah Usia Dini
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
Berita Gunungkidul 

Laporan Reporter Tribunjogja Wisang Seto Pangaribowo

TRIBUNJOGJA.COM,GUNUNGKIDUL - Banyaknya kasus hamil di luar nikah pada usia anak memicu banyaknya angka dispensasi nikah di Kabupaten Gunugkidul.

Untuk itu pemerintah kabupaten Gunungkidul terus menekan angka pernikahan usia dini, agar dapat mewujudkan sebagai Kabupaten Layak Anak.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (P3AKBPD) Gunungkidul Sudjoko mengatakan, rata-rata umur yang diajukan untuk dispensasi nikah adalah dibawah 19 tahun untuk laki-laki, sedangkan untuk perempuan di bawah 16 tahun.

"Banyak faktor yang memicu dispensasi nikah selain hamil diluar nikah, faktor ekonomi, faktor pendidikan hingga kemiskinan," ujarnya, Mingggu (13/1/2019).

Baca: Kasus Hamil di Luar Nikah Tinggi Jadi Pemicu Utama Pernikahan Dini di Kabupaten Sleman

Selain itu pihaknya juga kesulitan untuk memberikan kepada orangtua yang masih banyak beranggapan melihat anaknya sudah dapat menikah pada usia muda.

"Kami sudah bekerjasama dengan berbagai pihak. Kami juga selalu mengkampanyekan slogan lebih baik gendong tas dari pada gendong anak, ditiap-tiap kecamatan, dan juga mendukung deklarasi anti nikah dini yang dilakukan berbagai pihak," ucapnya.

Terpisah, Humas Pengadilan Agama (PA) Wonosari, Bawanto mengatakan dari tahun ke tahun tren dispensasi nikah di Kabupaten Gunungkidul mengalami fluktuasi.

Pada tahun 2017 hingga 2018 ada 67 permohonan, sedangkan di akhir 2018 naik menjadi 79 permohonan.

"Setiap bulan ada permohonan dispensasi kawin. Gunungkidul sendiri sudah mempunyai aturan terkait dengan pernikahan usia dini saya harap pemkab Gunungkidul kembali mensosialisasikan kembali aturan tersebut," ujarnya.

Baca: Gadis Kalbar Gagal Dinikahi WNA China, Sudah Hari H Tapi Surat-surat Syarat Menikah Tak Lengkap

Sementara itu, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Gunungkidul Tri Wahyudi mengatakan, pernikahan dini bukan menjadi solusi untuk memperbaiki ekonomi, pernikahan dini bisa menjadi pemicu masalah lainnya kedepannya.

"Ada masalah kesehatan yang mengintai seperti bayi rentan kekurangan gizi karena sang ibu masih berusia sangat muda, dan itu bayinya dapat terkena stunting," ucapnya.

Menurutnya tidak hanya masalah kesehatan saja yang mengancam terapi pernikahan dini juga dapat memicu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

"Dari segi psikologis juga belum matang," tutupnya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Wisang Seto Pangaribowo
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved