Yogyakarta

JPW Minta Pengadilan Berikan Vonis Maksimal pada Pelaku Klitih

Dalam catatan Jogja Police Watch (JPW) sepanjang tahun 2018 hingga awal 2019, banyak kasus yang masih menjadi pekerjaan rumah Polda DIY.

JPW Minta Pengadilan Berikan Vonis Maksimal pada Pelaku Klitih
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh
Ilustrasi Klitih 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dalam catatan Jogja Police Watch (JPW) sepanjang tahun 2018 hingga awal 2019, banyak kasus yang masih menjadi pekerjaan rumah Polda DIY.

Kepala Divisi Humas JPW, Baharuddin Kamba mengatakan salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah kasus kejahatan jalanan atau klitih.

"Dalam catatan kami,ada beberapa kasus yang masih jadi PR sepanjang 2018 hingga awal 2019 ini. Klitih masih jadi dominan catatan JPW dari berbagai kasus yang terjadi di wilayah hukum Polda DIY," katanya Rabu (9/1/2019).

Ia menilai kerja kepolisian dalam menangani kasus klitih perlu diapresiasi.

Polisi dianggap cepat dalam melakukan penyelidikan, sehingga pelaku klitih bisa segera ditangkap.

Baca: Tekan Aksi Klitih, Polda DIY Akan Tingkatkan Patroli di Malam Hari

Meski demikian, ia merasa prihatin karena kasus klitih masih marak terjadi.

Menurutnya hukuman yang dijatuhkan kepada pelaku klitih belum memberikan efek jera.

Ia pun meminta hakim pengadilan untuk memberikan vonis maksimal.

"Polisi perlu diapresiasi karena cepat dan pelaku klitih bisa ditangkap. Polisi juga cepat melakukan penyelidikan, sehingga proses hukum selanjutnya juga bisa berjalan. Tetapi meskipun sudah dihukum, pelaku masih belum jera. Mungkin kedepan pengadilan bisa memberikan vonis maksimal," ujarnya.

Selain berbagai pencegahan yang dilakukan oleh polisi dan pihak terkait, peran keluarga, lingkungan, dan masyarakat sangat penting.

Kamba menambahkan dengan kemajuan alat komunikasi, tentu seharusnya meningkatkan komunikasi antara orangtua dan anak.

Baca: Setelah dari Kantor Gubernur, Massa Aksi Tolak-Klitih Melanjutkan Aksinya di Mapolda DIY

"Pencegahan-pencegahan tentu perlu dilakukan dengan intens. Tetapi peran keluarga, lingkungan, dan masyarakat sangat dominan. Orangtua harus lebih perhatian pada anaknya. Sekarang alat komunikasi sudah maju, komunikasi juga harusnya semakin lancar," tambahnya.

"Pelaku klitih kebanyakan dari keluarga yang broken home, sehingga peran keluarga jadi penting. Tetapi jangan kemudian itu jadi alasan untuk bertindak kriminal, melakukan klitih," tutupnya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Christi Mahatma Wardhani
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved