Membangun Pendidikan dari Pinggiran (2-Habis)

Lingkungan keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi anak didik.

Membangun Pendidikan dari Pinggiran (2-Habis)
Istimewa
Pada 29 Desember 2018 digelar Focus Group Discussion (FGD) oleh alumni SPG Negeri Wonosari Angkatan 1980 bekerjasama dengan Yayasan Marta Hadiwisroyo di Joglo Sokoliman. 

TRIBUNJOGJA.COM - Ki Hajar Dewantara mengemukakan tiga pusat pendidikan, yaitu pendidikan yang diterima oleh anak dalam pergaulan tiga lingkungan, yaitu lingkungan keluarga, lingkungan perguruan, dan lingkungan masyarakat. Lingkungan perguruan, yang dimaksudkan adalah pendidikan formal sekolah.

Lingkungan keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi anak didik, karena itu semakin baik kualitas keluarga, kemungkinan besar anak akan tumbuh dan berkembang kepribadian dan karakternya yang berkualitas juga.

Karena itu, pendidikan dalam lingkungan keluarga tidak boleh diabaikan. Pendidikan pada lingkungan sekolah dilaksanakan dengan proses belajar-mengajar secara formal dengan kurikulum tertentu dan sejumlah persyaratan formal lainya, seperti guru dengan persyaratan tertentu, gedung sekolah sesuai standar pendidikan nasional, dan sebagainya.

Pendidian dalam lingkungan masyarakat berlangsung dalam suasana interaksi dalam suatu hubungan sosial. Dalam pergaulannya dalam masyarakat, tentu anak akan banyak berinteraksi dengan masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dalam berinteraksi itulah anak akan memperoleh pembelajaran di dalam masyarakat tersebut. Untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, pendidian haruslah berlangsung secara baik pada tripusat pendidikan tersebut.

Standard Nasional Pendidikan
Tidak bisa dipungkiri, masyarakat masih mendambakan pendidikan di kota, bahkan untuk bisa menyekolahkan puteranya di kota, orangtua sampai memindahkan domisili putranya di kota.

Tentu kita tidak bisa menyalahkan orangtua, karena orangtua berhak mencarikan tempat terbaik bagi pendidikan puteranya, demi masa depan.

Fenomena masyarakat tersebut sebenarnya tidak perlu terjadi, jika kualitas pendidikan dapat merata di seluruh pelosok negeri, baik di desa maupun di kota.

Karena itu, tidak ada kata lain, pemerintah harus membangun pendidikan secara standar, mulai dari daerah pinggiran atau desa sampai pelosok kota. Filosofi pembangunan pendidikan harus diubah dari desa ke kota, bukan dari kota ke desa. Pendidikan di pinggiran atau desa harus distandarkan sama dengan di kota melalui implementasi standard nasional pendidikan secara murni dan konsekuen.

Standar nasional pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum negara kesatuan Republik Indonesia, yang meliputi standar kompetensi lulusan, stadar isi, standar proses, standar pendidian dan tenaga kependidikan, strandar sarana dan prasarana, stadar pengelolaan, standar pembiayaan pendidikan, dan standar penilaian pendidikan.

Akhirnya kita berharap, agar Pemerintah melaksanakan pekerjan besar “mengimplementasikan pendidikan di semua jenjang pendidikan di seluruh pelosok wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, termasuk sekolah Indonesia di luar negeri, membangun pendidikan berdasarkan standar nasional pendidikan, dengan mengedepankan wilayah desa atau pinggiran, karena wilayah kota saat ini sudah relatif baik”. Semoga. (Sutrisna Wibawa, Rektor UNY)

Editor: ribut raharjo
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved