Citizen Journalism

Membangun Pendidikan dari Pinggiran (1)

Pada 29 Desember 2018 digelar Focus Group Discussion (FGD) oleh alumni SPG Negeri Wonosari Angkatan 1980 bekerjasama dengan Yayasan Marta Hadiwisroyo.

Membangun Pendidikan dari Pinggiran (1)
Istimewa
Pada 29 Desember 2018 digelar Focus Group Discussion (FGD) oleh alumni SPG Negeri Wonosari Angkatan 1980 bekerjasama dengan Yayasan Marta Hadiwisroyo di Joglo Sokoliman. 

TRIBUNJOGJA.COM - Pada 29 Desember 2018 digelar Focus Group Discussion (FGD) oleh alumni SPG Negeri Wonosari Angkatan 1980 bekerjasama dengan Yayasan Marta Hadiwisroyo di Joglo Sokoliman, suatu desa di tengah hutan di wilayah Kabupaten Gunungkidul. 

Moderator FGD adalah Drs Budi Utama MPd (mantan Ketua DPRD Kabupaten Gunungkidul, dengan tema “Membangun Pendidikan dari Pinggiran”.

Tema ini sesuai dengan visi Yayasan Marta Hadiwisroyo, yang sedang merintis Desa Sokoliman sebagai kampung pendidikan, dengan sentral kegiatan di Joglo Sokoliman.

Beberapa pokok pikiran yang menarik dari FGD tersebut dilaporkan sebagai berikut.

Tujuan pendidikan adalah arah kemana pendidikan akan dituju. UUD 1945 telah mengamanatkan tujuan pendidikan nasional sebagaimana dirumuskan pada Pasal 31, ayat 3 menyebutkan, “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang” dan ayat 5 menyebutkan, “Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.”

Tujuan pendidikan nasional, yang merupakan jabaran dari UUD 1945 tentang pendidikan, dituangkan dalam Undang-Undang No. 20, Tahun 2003, yang disebutkan pada Pasal 3, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Apabila dilihat dalam skala dunia, sebagaimana dirumuskan oleh PBB melalui lembaga UNESCO dalam upaya meningkatkan kualitas suatu bangsa, tidak ada cara lain kecuali melalui peningkatan mutu pendidikan. Karena itu, UNESCO mencanangkan empat pilar pendidikan baik untuk masa sekarang maupun masa depan, yakni, (1) learning to know (belajar untuk mengetahui), (2) learning to do (belajar melakukan sesuatu), (3) learning to be (belajar menjadi sesuatu) dan (4) learning to live together(belajar hidup bersama). Pada pilar pertama, pendidikan hakikatnya merupakan usaha untuk mencari agar mengetahui informasi yang dibutuhan dan berguna bagi kehidupan.

Pilar kedua bermakna pendidikan merupakan proses belajar untuk dapat melakukan sesuatu.
Pendidian membekali manusia tidak hanya untuk sekedar mengetahui, tetapi agar terampil berbuat sehingga menghasilkan sesuatu yang bermakna bagi kehidupan. Pilar ketiga, penguasaan pengetahuan dan keterampilan merupakan bagian dari proses menjadi diri sendiri. Menjadi diri sendiri dimaknai sebagai proses pemahaman terhadap kebutuhan dan jati diri.

Pendidikan merupakan pengembangan sumber daya manusia untuk membentuk pengalaman individual dan berinteraksi dengan orang lain.

Pilar keempat, kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima perlu dikembangkan pada diri peserta didik.

Pendidikan harus dapat menumbuhkan kesadaran peserta didik tentang keberagaman dalam masyarakat dan menanamkan rasa saling ketergantungan antar sesama manusia. (Rektor UNY, Prof Dr Sutrisna Wibawa/bersambung)

Editor: ribut raharjo
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved