Kulon Progo

Mandiri Ala Karang Guna Taruna Lendah Ubah Limbah Karet dan Batu Kali Jadi Hiasan Cantik

Mandiri Ala Karang Guna Taruna Lendah Ubah Limbah Karet dan Batu Kali Jadi Hiasan Cantik

Mandiri Ala Karang Guna Taruna Lendah Ubah Limbah Karet dan Batu Kali Jadi Hiasan Cantik
Tribun Jogja/ Singgih Wahyu
Anggota Kelompok Karang Guna Taruna (KG) Wahyuharjo, Lendah, tengah memasang batu kali untuk panel hiasan. 

TRIBUNJOGJA.COM - Sampah sekalipun bila jatuh di tangan yang tepat pasti bakal bernilai juga. Hal itu yang kini tengah dibuktikan oleh para pemuda di Pedukuhan Maesan Wetan, Desa Wahyuharjo, Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulon Progo.

Tunggul kayu ditaruh pelicin bakal elok juga. Peribahasa Melayu ini memiliki makna bahwa barang tidak berharga jika disentuh oleh tangan-tangan kreatif dapat menjadi barang yang amat berguna.

Kiranya hal itu sangat tepat untuk menggambarkan kegigihan kelompok usaha Karang Guna Taruna di Wahyuharjo ini.

Beranggotakan masyarakat setempat, khususnya para pemuda, kelompok ini mengolah sisa bahan karet dan batu kali seperti split, silika, dan batu hitam yang dianggap sampah tak berguna oleh sebagian orang menjadi karya mozaik, kaligrafi dan panel hiasan lantai.

Baca: Christmas Carvery Dinner: Ajak Tamu Makan Sepuasnya di Prime Plaza Hotel Jogjakarta

Karya kaligrafi kelompok KGT kaligrafi kini sudah terpasang tak hanya di masjid setempat melainkan juga di Banyuwangi, Bekasi dan sejumlah tempat lain.

Semua itu tak bisa dilepaskan dari Kusnoto, warga setempat pada sekitar 2014.

Kala itu, ia pulang kampung dari perantauan di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Melihat potensi semangat kebersamaan dan gotong royong para pemuda di desanya, ia tergerak untuk mengajak mereka memulai gerakan positif.

Baca: BREAKING NEWS: Rentetan Letupan Senjata Warnai Penangkapan Pria Bersenjata Tajam di Simpang Gramedia

Mulanya, Kusnoto yang berlatar ilmu teknik itu mengajak para pemuda membuat kerajinan dari bahan spon lalu berkembang jadi usaha pembuatan kaus olahraga, banner, billboard, tag nama, dan aksesori pendukung pesta hingga kemudian mulai merambah kerajinan dari sampah karet dan batu kali.

"Pesanan pertama kami dari sebuah sekolah untuk papan keterangan. Menyusul kemudian dari Mataram untuk pembuatan mimbar masjid,"kata Kusnoto, belum lama ini.

Halaman
12
Penulis: ing
Editor: has
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved