Pendidikan

Hadapi Persaingan Revolusi Industri 4.0, Generasi Muda Harus Ciptakan Inovasi dan Teknologi Baru

Hadapi Persaingan Revolusi Industri 4.0, Generasi Muda Harus Ciptakan Inovasi dan Teknologi Baru

Hadapi Persaingan Revolusi Industri 4.0, Generasi Muda Harus Ciptakan Inovasi dan Teknologi Baru
Tribun Jogja/ Noristera Pawestri
Dosen Institut Teknologi Surabaya (ITS), Prof Dr Eng Imam Rosbandi 

Laporan Reporter Tribun Jogja Noristera Pawestri

TRIBUNJOGJA.COM - Tak bisa dipungkiri, teknologi di era revolusi industri 4.0 kini telah menjadi kebutuhan primer.

Dosen Institut Teknologi Surabaya (ITS), Prof Dr Eng Imam Rosbandi menyampaikan, persaingan di era revolusi industri 4.0 semakin cepat seiring tumbuhnya inovasi baru yang semakin banyak.

"Bagaimana bisa mengejar ketertinggalan itu? Kita harus melek teknologi kalau tidak ingin mengalami ketertinggalan jauh," ujar Imam dalam rangkaian Sarasehan 'Academic Atmosphere and Image Building' di Embung Opak pada 8-9 Desember 2018, Jumat (7/12/2018).

Baca: Dinilai Mampu Manfaatkan Teknologi untuk Pemerintahan, Bupati Gunungkidul Dapat Penghargaan

Imam melanjutkan, apabila masyarakat hanya menjadi pengguna abadi teknologi, ia mengkhawatirkan SDM Indonesia akan tertinggal dari bangsa lain.

Hal ini karena menurut dia, masyarakat tidak dibekali tentang teknologi, sehingga masyarakat tertatih-tatih untuk mengejar ketertinggalan dari bangsa lain.

Budaya malas menciptakan inovasi dan teknologi ini harus secepatnya diubah.

"Apalagi dari kecil, siswa tidak memiliki habit dalam berinovasi. Sehingga, guru di pendidikan dasar harus dibekali teknologi paling baru," kata dia.

Baca: Serangan Siber Ancam Kedaulatan Digital

Menurutnya, bangsa yang besar ialah bangsa yang mampu menguasai teknologi, bukan yang mempunyai sumber daya.

Oleh sebab itu, generasi muda juga harus diajarkan teknologi sejak dini.

Sebab menurut Imam, pemahaman mengenai teknologi menjadi penting.

Untuk itu, guru di pendidikan dasar perlu dibekali teknologi paling baru meski pada tahap dasar.

"Guru bisa diikutkan pelatihan teknologi secara berkelanjutan tiga bulan sekali. Standar guru yang punya teknologi juga harus jelas. Misal yang menguasai teknologi bisa mendapatkan sertifikasi," terangnya. (tribunjogja)

Penulis: Noristera Pawestri
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved