Gunungkidul

BPBD Gunungkidul Cabut Status Darurat Kekeringan

Sejak Senin (25/11/2018) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul telah mencabut status darurat kekeringan di Gunungkidul.

BPBD Gunungkidul Cabut Status Darurat Kekeringan
TRIBUNJOGJA.COM / Rendika Ferri
Ilustrasi dropping air: Karsiti (42) berbaju lurik, berjilbab coklat membawa ember hitam) tampak riang setelah membawa air dari bantuan dropping air di Dusun Pacungan, desa Tepus, Kecamatan Tepus, Kamis (21/9). 

Laporan Reporter Tribunjogja Wisang Seto Pangaribowo

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Sejak Senin (25/11/2018) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul telah mencabut status darurat kekeringan di Gunungkidul.

Hal tersebut dikemukakan oleh Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Gunungkidul, saat ditemui Tribunjogja, Jumat (30/11/2018).

Ia mengatakan status darurat kekeringan dicabut karena hujan telah merata di Kabupaten Gunungkidul sehingga bantuan air bersih dirasa sudah cukup.

Oleh sebab itu pihaknya mencabut status darurat kekeringan.

"Kami terakhir melakukan dropping air pada haru Rabu (28/11/2018) setelah itu kami stop melakukan dropping air," katanya.

Baca: Pemkab Gunungkidul Buka Kesempatan untuk Investor Jika Gembira Loka Gagal Dipindah

Pencabutan status darurat kekeringan tidak hanya karena sudah merata hujan di Gunungkidul tetapi juga disebabkan masa beredarnya surat ketetapan darurat kekeringan sudah berakhir pada senin lalu.

"Kami selalu koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait curah hujan di Gunungkidul dan mendapatkan potensi hujan sudah merata maka kami memutuskan untuk mencabut status tersebut," katanya.

Total anggaran yang digunakan saat darurat kekeringan kurang lebih Rp 70 juta, awalnya BPBD mengajukan anggaran sebesar Rp 120 juta tetapi hanya dipergunakan Rp 70 jutaan.

"Ada sisa Rp 50 juta tetapi tidak kita ambil, anggaran Rp 70 juta tersebut tidak hanya digunakan untuk dropping air saja tetapi juga digunakan dimanfaatkan untuk pemeliharaan armada tangki air," jelasnya.

Baca: Butuh Ahli TI, Pemkab Gunungkidul Wacanakan Buka Lowongan THL TI

Meski masalah krisis air sudah mulai teratasi, namun Edy meminta kepada masyarakat untuk berhati-hati dan waspada terhadap potensi bencana pada saat musim penghujang.

"Krisis air sudah teratasi sekarang memasuki musim hujan kami menghimbau kepada masyarakat agar tetap waspada terhadap bencana tanah longsor, lalu selain itu juga kami imbau untuk mengurangi ranting-ranting pohon yang tinggi agar tidak roboh terkena angin kencang," katanya.

Memasuki musim penghujan gelombang laut di pantai selatan Gunungkidul masih tegolong landai, hal tersebut diungkapkan oleh sekretaris SAR satlinmas korwil II Surisdiyanto.

"Hingga dua hari kedepan gelombang laut masih landai, untuk nelayan mohon lebih waspada karena memasuki musim hujan ini cuaca sulit diprediksi," tuturnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Wisang Seto Pangaribowo
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved