Gunungkidul

Rumah Joglo Ratusan Tahun Ini Masih Berdiri Kokoh di Saptosari Gunungkidul

Ia mengaku pada tahun 1984 satu bagian rumah joglonya ditawar oleh orang Belgia sebesar Rp 40 juta, tetapi tawaran ditolak oleh sang ayah.

Rumah Joglo Ratusan Tahun Ini Masih Berdiri Kokoh di Saptosari Gunungkidul
TRIBUNJOGJA.COM / Wisang Seto P
Suparjono (biru) bersama dua orang kerabatnya di depan rumah joglo miliknya yang masih berdiri kokoh, Rabu (28/11/2018). 

Laporan Reporter Tribunjogja, Wisang Seto Pangaribowo

TRIBUNJOGJA.COM,GUNUNGKIDUL - Rumah Joglo khas Yogyakarta yang berumur kurang lebih 200 tahun masih berdiri kokoh di Desa Baros Lor, Kecamatan Saptosari, Gunungkidul.

Rumah berbentuk joglo tersebut milik Sardjono, mantan Kabag Pemdes di lingkungan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul.

Rumah tersebut merupakan warisan dari kakek buyut yang masih ia rawat hingga saat ini, rumah tersebut memiliki luas kurang lebih 600 meter persegi dan dijadikan cagar budaya pada tahun 2002 silam.

Rumah joglo tersebut masuk kedalam kriteria cagar budaya karena dalam rumah itu terdapat 5 unsur bangunan yaitu Kuncung, Lintring, Pendopo, Pringgitan, Dalem Ageng.

Baca: Unik! Bengkel Vespa Matic Ini Bertema Joglo Limasan

"Lintring itu tempat untuk bersantai, sedangkan joglo adalah tempat untuk menyambut tamu, sedangkan Dalem Ageng merupakan tempat untuk istirahat," katanya, Rabu (28/11/2018).

Delem ageng pun dibagi menjadi 3 bagian yaitu senthong kiwo (kiri), senthong tengen (kanan), dan senthong tengah, untuk senthong tengah berisi meja rias, tempat tidur, kasur, bantal, akan tetapi tidak dipergunakan untuk istirahat (tidur).

"Senthong tengah itu menurut orang-orang dulu adalah tempat peristirahatan Dewi Sri, yaitu dewi pembawa rejeki, yang untuk istirahat hanya senthong kanan dan kiri," jelasnya.

Dalam Pringgitan terdapat satu meja makan, dan satu almari menurutnya pada zaman dahulu pringgitan difungsikan untuk menyimpan wayang.

Tidak hanya rumahnya saja yang tergoling antik tetapi saat Tribunjogja masuk kedalam pawon (dapur) peralatan yang digunakan sebagian adalah peralatan kuno, seperti dandang yang terbuat dari tembaga, lalu tempat air yang menurutnya lebih tua daripada empunya.

Baca: Eko Suryo: Rumah Joglo Jangan Terjual ke Luar Kawasan Kota Gede

Halaman
123
Penulis: Wisang Seto Pangaribowo
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved