Pelari Kenya Berjaya di Borobudur Marathon 2018

Cuaca panas nan terik sama sekali tidak mengurangi semangat peserta Borobudur Marathon 2018, Minggu (18/11/2018)

Pelari Kenya Berjaya di Borobudur Marathon 2018
tribunjogja/aka
Borobudur Marathon 2018 

TRIBUNJOGJA.COM,MAGELANG  - Cuaca panas nan terik sama sekali tidak mengurangi semangat peserta Borobudur Marathon 2018, Minggu (18/11/2018). Terutama bagi pelari asal Kenya, yang mampu mendominasi perolehan gelar juara, hampir di setiap kategori. 

Pemimpin Redaksi (Pemred) Harian Kompas, Budiman Tanuredjo mengatakan, cuaca yang begitu panas di sepanjang gelaran, dinilai tidak sesuai ekspektasi. Pasalnya, para peserta memiliki harapan, bisa berlari dibarengi hujan ringan, seperti tahun lalu.

"Paling banyak dikeluhkan, ya soal cuaca, karena ekspektasi siang ini akan hujan. Tapi, ternyata terik luar biasa, hampir 36 derajat celcius. Sehingga, tenaga menjadi cepat terkuras. Ini yang harus kita evaluasi," katanya.

Baca: 150 Penggemar Buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini Berbaris di Lantai 3 Gramedia Sudirman

Namun, kondisi tersebut sepertinya tidak menjadi kendala bagi para pelari asal Kenya. Bagaimana tidak, di ketegori half marathon putri, Esther Wambui Karimi  keluar sebagai yang tercepat, sekaligus mengungguli teman senegaranya, Gladys Ruto. 

Setali tiga uang dengan kategori half marathon putra. Ya, Joshua Nakeri berhasil menorehkan catatan waktu tercepat, untuk rute sepanjang 21 kilometer tersebut. Lalu, dua sekompatriot, Charles Munyua Njoki dan Kennedy Lilan, menyusul di belakangnya.

"Pengalaman luar biasa di Borobudur Marathon 2018 ini. Persaingan sangat kompetitif, rute menantang, dengan track-track menanjak. Kemenangan ini sudah sesuai target pribadi saya," kata Joshua, beberapa saat setelah menginjak garis finish.

Bahkan, di kategori full marathon dengan jarak tempuh 42,195 kilometer, pelari Kenya lainnya, Geoffrey Birgen, finish terdepan. Rute dilahapnya dalam waktu 2 jam 20 menit 8 detik. Di belakangnya, menyusul David Kipruto Ngetich dan Biaz Kipkorir Kipyego, yang membuat dominasi Kenya semakin tak tertandingi.

Sedangkan pelari nasional pertama yang menginjak garis finish adalah Hamdan Sayuti, tepat di belakang tiga peserta dari Kenya tersebut. Bagi Hamdan, prestasi ini sekaligus mengulang torehan yang dibukukannya pada gelaran tahun lalu.

Baca: 5 Fakta yang Perlu Kamu Tahu tentang Buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini Tulisan Marchella FP

"Walaupun jumlah pelari asal mancanegara ini kecil, kalau dibandingkan dengan peserta lokal, tapi mereka mampu mendominasi gelar juara hampir di setiap nomor," ucap Budiman.

Walau begitu, ia mengungkapkan, jumlah peserta berstatus warga negara asing (WNA) selalu meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan, seandainya gelaran ini bisa menjadi bagian dari World Marathon Majors (WWM), jumlah itu dipastikan bakal melonjak.

"Pasti, pelari-pelari asing bakal semakin banyak yang datang ke sini. Ini merupakan mimpi kami, Borobudur Marathon bisa sejajar dengan agenda-agenda di Boston, New York, Berlin, atau Tokyo," tuturnya.

Lebih lanjut, dengan animo yang begitu tinggi, ia tidak menutup kemungkinan, akan menambah kuota peserta untuk gelaran tahun depan. Namun, hal tersebut harus mempertimbangkan daya tampung Taman Lumbini, yang menjadi lokasi start dan finish.

"Tentu kita harus mempertimbangkan daya tampung Taman Lumbini. Kalau bisa, tentu akan kami tambah. Sebenarnya bisa saja ditingkatkan, asal tidak mengurangi kualitas race, karena kenyamanan peserta harus kami utamakan," jelasnya. (aka)

Penulis: aka
Editor: ose
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved