Borobudur Marathon 2018, Pelari Asal Belanda Berumur 85 Tahun Ikut Jadi Peserta

Borobudur Marathon 2018 tidak hanya diikuti oleh para pelari dari berbagai daerah di Indonesia.

Borobudur Marathon 2018, Pelari Asal Belanda Berumur 85 Tahun Ikut Jadi Peserta
borobudurmarathon.co.id
Borobudur Marathon 2018 

TRIBUNjogja.com, MAGELANG - Borobudur Marathon 2018 tidak hanya diikuti oleh para pelari dari berbagai daerah di Indonesia.

Catatan Tribunjogja.com, dari total 10 ribu peserta, 205 di antaranya, berstatus warga negara asing (WNA).

Peserta mancanegara tersebut, paling banyak berasal dari Malaysia, sejumlah 81 orang. Kemudian, disusul oleh Kenya (36) dan Singapore (25).

Sisanya, berasal dari Amerika Serikat, Hongkong, India, Filipina Belanda, Swedia, dan lain sebagainya.

Menariknya, dua peserta teruzur yang ambil bagian di Borobudur Marathon 2018 pun berasal dari luar negeri, yakni Judith Van Ginkel (85) asal Belanda, lalu William
Herman Vollmert (76), asal Amerika Serikat. Kedua pelari itu, tergabung di kategori 10K.

Sebaliknya, terdapat pula empat pelari paling belia, yang masih berusia 5 tahun. Mereka adalah Haris Kurniawan dan Riko Rikardo di kategori full marathon, kemudian
Alifdion Surya Prayitno di kategori half marathon, serta Dinar Agmida, di kategori 10K.

Direktur Utama (Dirut) Bank Jateng, Supriyatno mengungkapkan, sejak beberapa tahun lalu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, memiliki impian, bisa diadakan sebuah
agenda bertaraf internasional, di daerah yang dipimpinnya tersebut.

"Sekarang kita punya Borobudur Marathon. Tinggal bagaimana kita menjadikannya sebagai bibit event internasional. Bersama Kompas, kita yakin, agenda ini benar-benar
menjadi event internasional di tahun ke empatnya nanti," katanya, Sabtu (17/11/2018).

Ia menuturkan, sebagai sponsor utama, pihaknya tidak terlalu menggubris target finansial dalam agenda ini.

Menurutnya, yang terpenting adalah menjadikan Jawa Tengah dikenal oleh dunia. Sehingga, dampaknya akan terasa langsung di masyarakat.

"Uang teman-teman kita itu, kita rampok lah, mereka harus jajan di sini. Kuliner banyak, ada iwak beyong, kupat tahu, dan lain sebagainya. Kalau bisa, pulanglah ke
daerahnya, dengan uang kosong," pungkasnya, diikuti gelak tawa. (aka)

Penulis: aka
Editor: iwe
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved