Yogyakarta

Generasi Muda Perlu Lestarikan Tumpeng 

Tumpeng yang merupakan bagian warisan dari kultur budaya Jawa akhirnya bisa unjuk gigi di Forum Food, Health di Torino, Italia.

Generasi Muda Perlu Lestarikan Tumpeng 
Koleksi dari Pusat Studi Pangan & Gizi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Seorang pembicara mengisi acara di Forum Food, Health di Torino, Italia bulan September lalu. Dalam acara ini tumpeng diperkenalkan makna filosofisnya di dunia Internasional. 

TRIBUNJOGJA.COM - Tumpeng yang merupakan bagian warisan dari kultur budaya Jawa akhirnya bisa unjuk gigi di Forum Food, Health di Torino, Italia.

Makanan tradisional yang kerap menjadi satu di antara simbol untuk upacara keagamaan, peresmian bangunan hingga selamatan di kultur Jawa ini diperkenalkan maknanya di dunia Internasional.

FORUM Food, Helath adalah satu dari lima forum dalam perhelatan akbar Salone del Gusto setiap tahun genap yang di selenggarakan Slow Food International di Torino, Italia.

Baca: Misi Kebudayaan, Sleman Akan Meriahkan Parade Surabaya

Amaliah, anggota dari Slow Food Yogyakarta memperkenalkan tumpeng dan maknanya di ajang yang diselenggarakan selama lima hari dari tanggal 20 sampai dengan 24 September dengan topik Food for Change.

“Gerakan Slow Food International adalah gerakan akar rumput yang tersebar di 160 negara dengan prinsip Good, Clear and Fair. Saya paparkan tumpeng di acara ini,” katanya kepada Tribunjogja.com, Selasa (13/11/2018) pagi.

Pemerhati dan staff peneliti makanan tradisional dan keragaman pangan lokal Nusantara dari Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini memaparkan makna Tumpeng dalam bahasa yang sangat sederhana dan gamblang kepada para peserta yang berasal dari seluruh dunia.

Amaliah menceritakan, dia bersama dengan empat orang pemapar lainnya yang berasal dari berbagai belahan dunia yang berbeda yaitu Eija Tarkiainen (peneliti disiplin holistik dan kurator proyek budaya, Finlandia), Kazumi Oishi (dukun dari  Jepang), Luca Ostacoli (Psikiater dan Profesor Psikologi Klinis dan Psikoterapi dari Torino, Italia) serta Jader Tolja (psikoterapis dan peneliti, Belanda).

Acara ini dipandu oleh Maria Chiara Giorda, seorang profesor dari Universiti Agama Sejarah  dari Roma.

Dalam pemaparannya, koordinator Ark of Taste dan Presidia Pisang Slow Food Yogyakarta untuk International ini mengemukakan, tumpeng merupakan perwujudan dari ‘tumapaking penguripan tumindak lempeng tumuju Pangeran’, artinya orang Jawa percaya bahwa manusia hidup bersatu dengan Tuhannya dalam kebenaran dan kebijakan yang hakiki.

Dalam hal ini, sebut Amaliah, Tumpeng sebagai simbol dan perayaan hidup dalam tradisi jawa yang diwujudkan dalam bentuk kerucut terbuat dari nasi.

Halaman
1234
Penulis: ais
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved