Hari Pahlawan - Inggris yang Berperang di Surabaya, Kenapa Bukan Belanda?

Pihak Inggris tak terima Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby terbunuh dalam tragedi dan memberikan ultimatum kepada Indonesia

Hari Pahlawan - Inggris yang Berperang di Surabaya, Kenapa Bukan Belanda?
IST
Perang Surabaya 10 November 1945 yang melibatkan rakyat Indonesia menghadapi pasukan sekutu Inggris. 

TRIBUNJOGJA.COM - Pada akhir Oktober 1945, pasukan Inggris dari Divisi India ke-23 mencoba melucuti senjata tentara Jepang di Indonesia.

Saat itu, senjata tentara Jepang juga sudah dikuasai rakyat Indonesia, sehingga ini menimbulkan perlawanan.

Baca: Hari Pahlawan - Saat Laskar Hizbullah, Sabilillah, dan Tionghoa Bersatu di Perang Surabaya

Di Surabaya misalnya, terjadilah pertempuran besar yang bahkan menyebabkan tewasnya Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby.

Tewasnya perwira muda Inggris itu menimbulkan kemarahan Inggris, yang kemudian mendatangkan pasukan India Divisi ke-5.

Pihak Inggris tak terima jenderalnya terbunuh dalam tragedi tersebut dan memberikan ultimatum kepada warga Indonesia.

Imbasnya, terjadilah pertempuran hingga lebih dari tiga minggu antara pihak Inggris dengan warga Surabaya.

Kondisi salah satu sudut di Kota Surabaya ketika pertempuran 10 November 1945.
Kondisi salah satu sudut di Kota Surabaya ketika pertempuran 10 November 1945. ()

Sebelumnya, pihak Belanda sendiri banyak mengecam tindakan Inggris. Mereka beranggapan bahwa Inggris tak usah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menjamin kembalinya pemerintahan Belanda di Indonesia.

Sampai saat ini, masih ada segelintir orang Belanda yang menyalahkan Inggris atas lepasnya bekas negara jajahannya yang kaya tersebut.

Kenapa Inggris Terlibat?

Selama Perang Dunia II, Inggris memiliki pandangan bahwa negara-negara Eropa masih memiliki hak untuk kembali menguasai jajahannya, terutama di Asia dan Afrika.

Baca: Tragedi Surabaya Membara - Selain 3 Tewas, 20 Korban Mengalami Luka-luka

Dalam hal ini, pihak Sekutu merasa berhak atas jajahan yang sebelumnya dikuasai Jerman, Italia, atau Jepang.

Halaman
123
Editor: iwanoganapriansyah
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved