Bantul

Program Relokasi di Zona Rawan Longsor di Bantul Masih Terus Berjalan

Program relokasi bagi masyarakat yang tinggal di zona rawan longsor masih terus dilakukan oleh pemkab Bantul.

Program Relokasi di Zona Rawan Longsor di Bantul Masih Terus Berjalan
Tribun Jogja/ Ahmad Syarifudin
Ilustrasi: Petugas BPBD Bantul sedang memasang alat early warning sistem (EWS) sebagai peringatan dini bencana tanah longsor di tTambalan, Srimartani, Piyungan Bantul, Selasa (25/9/2018) 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Program relokasi bagi masyarakat yang tinggal di zona rawan longsor masih terus dilakukan oleh pemkab Bantul.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Pelaksana BPBD Bantul Dwi Daryanto.

"Bantul punya program relokasi. Setiap tahunnya ada sekitar 5-10 kepala keluarga yang tinggal di  daerah rawan longsor yang direlokasi," jelasnya belum lama ini.

Lanjutnya, program relokasi ini telah dilakukan sejak 2008 silam dan telah menjangkau banyak kepala keluarga di daerah rawan longsor. "Sudah cukup banyak, seperti di daerah Seloharjo, Wonolelo, dan Srimartani," jelasnya.

Baca: Musim Hujan Tiba, Sejumlah Wilayah Terancam Banjir Bandang dan Longsor

Relokasi ini difasilitasi oleh pemerintah yang memanfaatkan tanah kas desa sebagai lokasi relokasi.

Namun ada juga yang melalukan relokasi secara mandiri dengan memanfaatkan tanah milik sendiri.

"Ada yang memang difasilitasi ada yang mandiri. Kalau masuk program relokasi dari pemerintah ada dana stimulannya," ungkapnya.

Data dari Pusdalops BPBD Bantul, tanah longsor di Bantul berdasar tanggal kejadiannya di masing-masing kecamatan sepanjang 2017 tercatat sejumlah 345 tanggal kejadian.

Paling banyak berada di kecamatan Imogiri yakni 79 tanggal kejadian.

Baca: BPBD Bantul Pasang Alat Peringatan Dini Bahaya Longsor di Srimartani

Sedangkan pada 2018, hingga Oktober tercatat ada 19 tanggal kejadian.

Kebanyakan tanggal kejadian terjadi pada awal tahun yakni di bulan Januari-Maret.

"Daerah yang rawan longsor ini ada di Piyungan, Pleret, Imogiri, Pundong, dan Dlingo," kata Dwi.

Lanjutnya, pihaknya juga telah melakukan kajian terkait tanah longsor ini. Rumah-rumah yang berada di daerah tebing menjadi potensi rawan terkena longsor.

Selain itu tipikal tanah juga berpengaruh terhadap pergerakan tanah longsor.

"Longsor ini juga karena tipikal tanahnya, tanah yang jenuh ini licin jadi bergerak pelan-pelan," ujarnya. "Maka masyarakat yang berada di zona merah kewaspadaannya lebih ditingkatkan," imbuhnya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: amg
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved