Kota Yogyakarta

Forum KTB Kecamatan Antisipasi Bencana antar-Kampung

Ia menjelaskan bahwa 1 KTB terdiri 30 orang warga terlatih yang mengayomi warga satu kampung yang isinya rata-rata berkisar 1.000 jiwa.

Forum KTB Kecamatan Antisipasi Bencana antar-Kampung
TRIBUNJOGJA.COM / Hasan Sakri
SIMULASI PENANGANAN BENCANA. Tim pencarian dan pertolongan membawa korban saat simulasi penanganan bencana gempa bumi di komplek Balai Kota Yogyakarta, Rabu (7/11/2018). 

Laporan Reporter Tribun Jogja Kurniatul Hidayah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta Hari Wahyudi menjelaskan bahwa saat ini telah ada 100 Kampung Tangguh Bencana (KTB) di Kota Yogyakarta.

Ia menjelaskan bahwa 1 KTB terdiri 30 orang warga terlatih yang mengayomi warga satu kampung yang isinya rata-rata berkisar 1.000 jiwa.

"Saya tekankan kalau anggota KTB ini sebagai guide kalau di sektor pariwisata. Bisa mengarahkan warga agar tidak panik terjadi bencana dan mampu mengarahkan ke jalur evakuasi menuju titik kumpul," jelasnya, Rabu (7/11/2018).

Baca: Masuki Musim Hujan, BPBD Bantul Siapkan Posko Siaga Bencana

Ia pun menuturkan bahwa masing-masing KTB telah rutin mengadakan simulasi penanggulangan bencana.

Masing-masing KTB melakukan simulasi yang berbeda antar satu dengan lainnya.

"Masing-masing KTB punya peta rawan kebakaran, tanah longsor, banjir, dan sebagainya. Ketika simulasi, tiap kampung beda," ujarnya.

Untuk mengantisipasi terjadinya bencana di beberapa kampung, Hari menuturkan bahwa pihaknya telah membentuk Forum KTB Kecamatan.

Forum tersebut berisikan koordinator yang nantinya menangani bencana yang terjadi di beberapa kampung dalam satu kelurahan.

"Jadi tidak semua jadi komandan. Kita tunjuk ini, lalu nanti mereka ini yang berkoordinasi dengan kami di tingkat kota," tuturnya.

Baca: KTB di Kota Yogyakarta Akan Terus Ditingkatkan

Selain terus mengembangkan kesiapsiagaan warga di KTB, Hari menuturkan bahwa tahun depan pihaknya menyasar sekolah-sekolah.

Ia menjelaskan bahwa penting bagi guru dan warga sekolah untuk bisa melakukan perlindungan diri ketika terjadi bencana.

"Di sekolah pelakunya ada Kepala Sekolah, guru, dan TU. Kalau dari murid, paling SD usia 7 tahun kan belum ngerti. Ini harapannya nanti bisa rutin menggelar simulasi 1 tahun atau 6 bulan sekali," tandasnya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: kur
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved