Travel

Melihat Lebih Dekat Desa Wisata Krebet, Sentra Penghasil Kerajinan Batik Kayu

Melihat Lebih Dekat Desa Wisata Krebet, Sentra Penghasil Kerajinan Batik Kayu

Melihat Lebih Dekat Desa Wisata Krebet, Sentra Penghasil Kerajinan Batik Kayu
Tribun Jogja/ Ahmad Syarifudin
Ketua pengelola desa wisata Krebet, Agus Jati Kumara tengah merapikan aneka kerajinan batik kayu yang sedang di keringkan. 

Laporan Reporter Tribun Jogja Ahmad Syarifudin

TRIBUNJOGJA.COM - Desa wisata umumnya identik dengan keindahan alam dan panorama wisata yang menawan. Namun itu tidak berlaku bagi padukuhan Krebet, di Sendangsari, Pajangan, Bantul.

Desa wisata Krebet ini terletak di atas kawasan tandus dan batuan berkapur, tepatnya di sisi sebelah barat kabupaten Bantul.

Pertanian di daerah ini hanya mengandalkan tadah hujan. Sebab itu, ketrampilan yang dimiliki oleh masyarakat Krebet menjadi modal dan daya tarik bagi wisatawan.

Memasuki area kampung Krebet ini, pengunjung tidak akan disuguhi panorama alam tetapi ditawari pemandangan aneka macam kerajinan kayu. Kerajinan itu terpajang digaleri yang ada pinggir-pinggir jalanan Kampung.

Baca: Nikmati New Year Eve 2019 di Infinity Sky Bar Platinum Hotel Yogyakarta

Menariknya, kerajinan kayu yang dihasilkan di desa kecil ini hampir mayoritas memiliki pola batik. Tak heran, jika desa wisata Krebet kemudian dikenal oleh masyarakat luas sebagai sentra dari kerajinan batik kayu.

Desa ini memang cukup unik. Mengingat, kerajinan batik pada umumnya digoreskan menggunakan media kain. Tapi masyarakat Krebet justru membatik menggunakan media kayu.

Ketua pengelola Desa Wisata Krebet, Agus Jati Kumara, mengatakan industri kerajinan batik kayu di wilayah Krebet, sudah mulai dirintis sejak tahun 1970-an.

Seiring perkembangan, Krebet kemudian terus berinovasi hingga akhirnya dinobatkan sebagai desa wisata pada tahun 2002 oleh Pemkab Bantul.

Ibu-ibu di desa wisata Krebet sedang membatik di atas topeng kayu.
Ibu-ibu di desa wisata Krebet sedang membatik di atas topeng kayu. (Tribun Jogja/ Ahmad Syarifudin)

Pada mulanya, menurut Agus, produk yang dihasilkan masih sebatas topeng dan wayang. Namun seiring waktu, kemampuan yang dimiliki terus berkembang hingga saat ini tercatat sudah ada ribuan item produk yang dihasilkan.

Baca: Produk UMKM Kulon Progo Harus Masuk NYIA

Halaman
1234
Penulis: Ahmad Syarifudin
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved