ESSAI

Sekaten, Pecut dan Endog Abang Itu Telah Terpinggirkan

Sajian pecut, brondong sebagai simbol permainan masyarakat kecil mulai hilang di arena pasar malam perayaan sekaten

Sekaten, Pecut dan Endog Abang Itu Telah Terpinggirkan
TRIBUNJOGJA.COM | Wahyu Setiawan Nugroho
telur merah makanan khas tiap sekaten di alun-alun Utara Yogyakarta 

TERHITUNG sejak Jumat Jumat (2/11), akses jalan di sekitar Brigjend Katamso, Panembahan Senopati dan ruas-ruas lain yang berdekatan dengan Alun-alun Utara Kota Yogyakarta mengalami kemacetan parah.

Pada Sabtu malam kendaraan yang ada di Titik Nol bahkan tak bergerak sama sekali. Kendaraan dari arah Malioboro, Nyi Ahmad Dahlan dan juga Panembahan Senopati seakan berhenti bergerak. Situasi serupa terjadi di sekitaran Ibu Ruswo, Gondomanan dan sekitarnya.

Meski sudah menjadi barang yang lumrah di Kota Yaogyakarta, namun kemacetan kali ini menunjukkan fakta bahwa Pasar Malam perayaan Sekaten yang dibuka secara resmi pada Jumat (2/11) masih menjadi magnet luar biasa.

Event tahunan yang digelar dalam rangka menyemarakkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini masih menjadi wahana hiburan murah bagi masyarakat Yogyakarta. Mereka berbondong-bondong, mengajak anak-anak mereka berdesak-desakan memecah kemacetan demi menikmati Pasar Malam Perayaan Sekaten.

Memang harus diakui, seiring dengan perjalanan waktu, nuansa PMPS berubah mengikuti perkembangan zaman. Sekaten yang dulu sarat dengan syiar agama, kini telah berubah menjadi hiburan semata.

Sajian pecut, brondong sebagai simbol permainan masyarakat kecil mulai hilang di arena pasar malam perayaan sekaten. Sego gurih, endog abang dan sebagainya yang mengisyaratkan syiar islam di acara tersebut juga mulai tergeser. Panggung tertutup dangdut yang dulu menjadi stan favorit di ajang ini juga tak lagi tampak saat ini.

Kali ini, PMPS lebih didominasi oleh stand hiburan. Bahkan bagi sebagian kalangan, PMPS adalah pestanya para penggemar awul-awul alias pakaian impor bekas. Stand awul-awul ini menjadi sangat dominan jumlahnya.

Jika dicermati lebih teliti, stand awul-awul ini tampanya telah menggantikan peran stand dangdut yang dulu menjadi favorit di sekaten. Artinya, jika dulu stand orkes melayu yang paling dinikmati, kini stand awul-awulah yang menjadi raja di ajang ini. Tentu hal ini tak bermaksud untuk mengesampingkan kenyataan bahwa arena permainan juga masih menjadi favorit pengunjung.

Namun apapun itu, diakui atau tidak, PMPS benar-benar masiah menjadi magnet luar biasa. Pasar Malam Perayaan Sekaten masih menjadi wahana hiburan murah bagi warga Yogyakarta dan sekitarnya.

Dari kenyataan ini, kita semua berharap pemangku kebijakan dalam hal ini Pemkot Yogyakarta kembali berbenah. Tahun depan, penyelenggarannya tak hanya sebagai rutinitas belaka. Konsep sekaten sebagai syiar dan juga hiburan murah ini harus kembali dimunculkan kedalam tataran konsep dan pelaksanaan.

Tentu pekerjaan ini juga menyangkut bagaimana pemerintah melaksanakan aksi konkret terkait fakta adanya jual beli stand secara ilegal di arena sekaten dan juga penataan tarif parkir. Dua masalah ini selalu muncul dan harus dibenahi, namun yang paling penting tampaknya adalah bagaimana mengembalikan ruh sekaten sebagai hiburan yang syarat dengan syiar. (ibnu taufik jr)

Penulis: ufi
Editor: ufi
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved