ESAI

Lagu November Rain dan Novel Baswedan

Tepat 1 November 2018 atau Kamis kemarin adalah tepat 500 hari kasus penyerangan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan

Lagu November Rain dan Novel Baswedan
www.instagram.com/najwashihab
Band Efek Rumah Kaca tantang netizen cover lagu mereka, sebagai bentuk dukungan untuk Novel Baswedan. 

BULAN sudah beranjak memasuki November, pada Kamis kemarin. Namun hujan belum juga menyapa publik Yogya dan sekitarnya. Cuaca panas membuat warga di Kota yang konon juga disebut sebagai Indonesia mini menjadi gerah.

Kekeringan mulai dirasakan di kawasan selatan. Di Kulon Progo, Gunungkidul dan sebagian Bantul sejumlah warga mengeluh sumurnya mengering. Masifnya pembangunan hotel di Kota juga membuat beberapa warga Kota mengaku sumurnya asat.

Namun problem kehidupan itu serasa tenggelam dengan berita menghebohkan jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 pada Senin pagi 29 Oktober lalu. Orang lebih sibuk membicarakan tragedi Lion Air dibanding masalah air sumur maupun keran PDAM yang tak lagi mengalir.

Karut marut dunia penerbangan seakan menjadi tema pokok pembicaraan di setiap lini masyarakat. Di teras rumah, warung angkringan maupun café dan juga tak ketinggalan sosial media dipenuhi dengan tema Lion Air.

Kawan-kawan uplouder di portal-portal online juga disibukkan dengan berlomba mengunggah berita perkembangan tragedi Lion Air. Situasi ini mengesankan, masalah yang paling krusial di negeri ini saat ini adalah Lion Air.

Namun di antara sayup lirik lagu November Rain milik Guns N Roses yang rasanya tahun ini tidak begitu pas, ada permasalahan yang lebih fundamental yang tanpa sadar mulai kita lupakan. Masalah tersebut adalah teror terhadap upaya penegakkan keadilan.

Tepat 1 November 2018 atau Kamis kemarin adalah tepat 500 hari kasus penyerangan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan. 500 hari yang lalu, tepatnya 11 April 2017, Novel diserang oleh pengedara sepedamotor. Wajah Novel disiram dengan air keras yang membuat matanya terancam mengalami kebutaan.

Novel adalah penyidik senior KPK yang sudah bermetamorfosis menjadi simbol perlawanan terhadap korupsi. Sosok pria kelahiran Semarang, 22 Juni 1977 ini begitu kuat menjadi lawan dan pemberantas koruptor.

Dalam sudut pandang tertentu, sosok Novel bahkan lebih kuat sebagai simbol perlawanan terhadap korupsi ketimbang lembaga tempatnya bekerja.
Ini tak lain karena serangan dan intimidasi tak hanya sekali dua kali dialami Novel.

Penyidik senior KPK ini berulangkali mendapat teror baik fisik, termasuk upaya kriminalisasi yang dilakukan oleh kekuatan besar. Sebut saja, ia sempat dikriminalisasi oleh kasus penanganan tersangka bom ikan saat ia masih dinas di kepolisian.

Ironisnya, pemerintah seakan abai dengan kasus intimidasi terhadap seorang Novel Baswedan. Pemerintah selalu mengatakan bahwa kasus Novel adalah kasus kriminal biasa yang memposisikan institusi kepolisian sebagai martir.

Pemerintah tak sedikitpun memandang teror terhadap Novel adalah sebuah upaya nyata perlawanan dari para koruptor terhadap negara. Dan kasus ini semakin melengkapi label ketidakseriusan pemerintah dalam hal penegakan hukum utamanya korupsi.

Tidaklah berlebihan jika akhirnya, orang kemudian kembali menggugat posisi panglima tertinggi di Jaksa Agung yang dipilih dari unsur partai politik. Puzle-puzle ini tentu menyiratkan bagaimana pemerintah tak serius di urusan penegakan hukum. (Ibnu Taufik Jr)

Penulis: ufi
Editor: ufi
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved