Merasa Raperda Toko Modern dan Pasar Rakyat Kurang Pas, FPPR Audiensi ke DPRD Sleman

Forum Peduli Pasar Rakyat (FPPR) mendatangi Kantor DPRD Kabupaten Sleman, mempertanyakan regulasi terkait Raperda Toko Swalayan

Merasa Raperda Toko Modern dan Pasar Rakyat Kurang Pas, FPPR Audiensi ke DPRD Sleman
Tribunjogja/ rid
Suasana audiensi antara FPPR dengan Tim Pansus Raperda Toko Swalayan dan Pasar Rakyat di DPRD Sleman. Senin (24/9). 

TRIBUNJOGJA.COM,SLEMAN- Belasan orang yang mengatasnamakan Forum Peduli Pasar Rakyat (FPPR) mendatangi Kantor DPRD Kabupaten Sleman, Senin (24/9/2018). Bukan tanpa alasan, kedatangan mereka ingin mempertanyakan regulasi terkait Raperda Toko Swalayan dan Pasar Rakyat yang tengah digodok Tim Panitia Khusus (Pansus).

Mengingat dalam raperda itu menyebut adanya pemangkasan jarak antara Toko jejaring dengan Pasar Tradisional, di mana sebelumnya 1000 meter menjadi 500 meter.

Karenanya, FPPR merasa hal tersebut akan berdampak bagi perekonomian pedagang Pasar Tradisional.

Agus Subagyo, koordinator audiensi FPPR mengatakan, bahwa kedatangan pihaknya untuk melakukan audiensi dengan Tim Pansus raperda tersebut karena beberapa pedagang Pasar Tradisional dan Toko kelontong mengalami penurunan penjualan,

khususnya yang berada di sekitaran Toko jejaring. Berdasar hal itulah pihaknya ingin memberi masukan terhadap raperda yang tengah digodok Tim Pansus tersebut.

Baca: Protes Perubahan Jarak Toko Modern dan Pasar Tradisional, Warga Temui Pansus DPRD Sleman

Baca: Eko Suwanto Banyak Menyimak Aspirasi Warga Jogja

"Di raperda itu, jarak antara Toko jejaring dan Pasar Tradisional mau dipersempit dari 1000 meter jadi 500 meter. Padahal 1000 meter saja bikin sepi, kok mau dipersempit lagi, jadi dengan ini (Audiensi) kami ingin Pansus merubah regulasi itu," katanya, Senin (24/9/2018).

Lanjutnya, perubahan regulasi itu dianggap puhaknya perlu karena jika dibiarkan akan memperpanjang ketimpangan ekonomi antar pengusaha. Terlebih sudah banyak para pedagang yang mengeluh terkait adanya Toko jejaring tersebut.

"Keberadaan Toko jejaring itu membuat ketimpangan dan membuat pedagang di Pasar Tradisional tidak bisa berkembang," ujarnya.

Sugiyo, salah satu pedagang di Pasar Gamping, Sleman mengatakan, bahwa ia begitu kecewa dengan keberadaan Toko jejeraring yang jaraknya tidak jauh dari Pasar Tradisional. Diungkapkannya, jika keberadaan Toko tersebut membuat penjualannya mengalami penurunan.

"Kami kecewa dengan keberadaan Toko modern di Sleman, apalagi jarak yang tadinya sekilo mau jadi 500 meter dari Pasar Tradisional. Saya pribadi mewakili Pedagang di Gamping berharap kedepannya (Toko jejaring) dikurangi, karena bisa mematikan Toko kelontong di dekatnya," katanya.

Halaman
12
Penulis: rid
Editor: ose
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help