KPU DIY

Pelepasan Perkutut Jadi Lambang Harmoni Keselarasan dalam Deklarasi Pemilu Damai

Burung Perkutut juga mengandung makna kampanye bagi para kontestan yang diharapkan tak hanya berkoceh dan berkata-kata saja.

Pelepasan Perkutut Jadi Lambang Harmoni Keselarasan dalam Deklarasi Pemilu Damai
TRIBUNJOGJA.COM / Wahyu Setiawan
Para kontestan pemilu 2018 di Yogyakarta saat membacakan ikrar janji pemilu damai bertajuk 'Indonesia Menolak Hoax, Politisasi SARA dan Politik Uang' di Bangsal Kepatihan, Minggu (23/9/2018). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Komisi Pemilihan Umum (KPU) DIY melakukan ikrar dan penandatangan mewujudkan kampanye damai bertajuk 'Indonesia Menolak Hoax, Politisasi SARA dan Politik Uang'.

Dari pantauan Tribunjogja.com, para kontestan Pemilu serentak 2019 secara simbolis juga turut melepaskan burung perkutut di sela Deklarasi kampanye damai di Bangsal Kepatihan, Minggu (23/9/2018).

Baca: Sejumlah Parpol, Caleg dan Perwakilan Capres Cawapres di Yogyakarta Deklarasikan Pemilu Damai

Ketua KPU DIY, Hamdan Kurniawan menyebutkan pelepasan burung ini tak hanya simbolis saja namun memiliki makna filosofis yang dalam.

"Perkutut itu bukan hanya lambang perdamaian, namun lebih dari itu, ia adalah lambang harmoni atau keselarasan. Harmoni dengan diri sendiri, masyarakat, lingkungan, dan dengan tatanan kehidupan," kata Hamdan dalam sambutannya.

Hamdan menilai, burung perkutut pun sangat relevan dengan kegiatan kampanye dalam Pemilu Serentak 2019 ini.

Pihaknya menilai perkutut selain sebagai ikon flora Provinsi DIY, yang ditetapkan sejak 1990-an, perkutut juga mengandung makna kampanye bagi para kontestan yang diharapkan tak hanya berkoceh dan berkata-kata saja namun benar-benar beradu visi, misi dan program kedepan.

"Kampanye hendaknya, ora mung ocehan, namung dadiya anggungan," lanjutnya.

Baca: Agenda KPU DIY - Karnaval Budaya Deklarasi Kampanye Damai Serentak Pemilu 2019 Minggu 23 September

Makna dari pelepasan burung perkutut ini, lanjut Hamdan, tak hanya melepas setinggi-tingginya namun juga mengandung makna yang lebih dipentingkan yakni melepaskan burung dari kurungan.

"Nilai-nilai yang ditegaskan adalah melepaskan diri dari kurungan, dari kungkungan, dari keterbatasan agar dipahami bahwa hidup hendaknya bebas, merdeka namun tetap selaras dengan tatanan," tegasnya. (*)

Penulis: Wahyu Setiawan Nugroho
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved