Atasi Kemarau Panjang dengan Memanen Air Hujan Terlebih DUlu

Sama halnya dengan mengatasi banjir, Agus juga menekankan pentingnya mengantisipasi masalah kekeringan.

Atasi Kemarau Panjang dengan Memanen Air Hujan Terlebih DUlu
Tribun Jogja/ Anas Apriyadi
Jelang musim kemarau, sawah padu di Guwosari, Pajangan nampak mengering, Senin (25/5/2015) 

TRIBUNJOGJA.COM - Memanen air hujan diperlukan sebagai upaya mengantisipasi dampak kekeringan yang terjadi saat musim kemarau berkepanjangan.

Pakar Hidrologi dari Fakultas Teknik UGM Dr. Agus Maryono mengatakan hal itu bisa dilakukan oleh masyarakat saat musim hujan berlangsung.

Sama halnya dengan mengatasi banjir, Agus juga menekankan pentingnya mengantisipasi masalah kekeringan.

Terlebih diprediksi elnini akan terjadi menjelang akhir tahun sehingga di beberapa daerah akan mengalami dampak kemarau panjang.

Agus Muryono menjelaskan kekeringan saat musim kemarau dapat diantisipasi dengan memaksimalkan air hujan yang turun dengan cara membuat bak penampung atau menyalurkannya ke dalam sumur.

Kegiatan itu bisa dilakukan selama 4-6 bulan selama musim hujan.

"Menampung air hujan sangat bagus untuk mengurangi ketergantungan penduduk terhadap PDAM. Petani juga bisa memanfaatkan air hujan dengan membuat sumur atau kolam di sekitar lokasi pertanian," terangnya.

Ia menerangkan, rumah yang memiliki sumur, maka panen hujan yang bisa dilakukan adalah dengan mengalirkan air hujan dari atap melalui pipa air menuju sumur.

Namun bila tidak memiliki sumur bisa dilakukan dengan menggunakan bak penampung. Agar air tidak kotor maka dapat digunakan penyaring sederhanan dengan berbahan kain atau kaus.

Agus menjelaskan, Indonesia memiliki air hujan yang masih layak dikonsumsi. Ia pun telah sudah melakukan penelitian tentang tingkat keasaman air hujan di berbagai daerah di Indonesia seperti di Yogyakarta, Bali, Bogor dan Jakarta.

Dari hasil temuan tersebut rata-rata tingkat derajat keasaman (pH) air hujan mencapai 7,2 hingga 7,4.

"Air hujan layak untuk dikonsumsi, namun untuk air hujan pertama hingga ketiga sebaiknya jangan dulu dikonsumi, karena masih berisi debu dan polusi lainnya. Tapi tetap bisa digunakan untuk keperluan lainnya," paparnya.

Kendati memanen air hujan bisa sangat menguntunkan, namun ia membeberkan bahwa kebiasaan tersebut tidak dilakukan oleh masyarakat saat ini. Mereka tidak terbiasa, dan akhirnya ketika musim kemarau datang banyak daerah yang kekurangan air. (*)

Penulis: nto
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help