Bantul

Wiwit Srawung, Sebuah Harapan Warga Prancak Glondong Untuk Merawat Silaturahmi

Wiwit Srawung, Sebuah Harapan Warga Prancak Glondong Untuk Merawat Silaturahmi

Wiwit Srawung, Sebuah Harapan Warga Prancak Glondong Untuk Merawat Silaturahmi
Tribun Jogja/ Amalia Nurul Fathonaty
Warga Prancak Glondong usai kirab berkumpul di kawasan Sumur Miring untuk menyaksikan sendra tari dan menyantap sega wiwit, Sabtu (15/9/2018) sore. 

TRIBUNJOGJA.COM - Rombongan bregada prajurit lombok abang tiba di kawasan Sumur Miring, Prancak Glondong, Panggungharjo, Sewon, Sabtu (15/9/2018) sore.

Di belakangnya mengekor barisan prajurit lainnya, rombongan gunungan hasil bumi, juga kereta kuda.

Memang, sore itu tengah digelar kirab merti dusun. Namun, ada yang unik dari tradisi ini. Tak seperti kebanyakan merti dusun yang dilakukan saat masa panen tiba. Merti dusun ini dilangsungkan berdasar prinsip srawung atau bersosialisasi.

Hal tersebut mengingat pedukuhan Prancak Glondong saat ini menjadi daerah urban. Meski masih disebut dusun, aktivitas keseharian warganya bisa dibilang lebih cenderung aktivitas tipikal perkotaan.

Sohib Jamaludin, tokoh masyarakat pedukuhan Prancak Glondong mengungkapkan, pertumbuhan masyarakat di sekitar kawasan tersebut berubah drastis.

"Mulai terasa saat awal 90an. Saat itu baru pertama kali dibangun gedung rektorat unit satu ini, saya ingat betul," ujar Sohib kepada Tribun Jogja.

Lanjutnya, indekos pun mulai banyak bermunculan. Mahasiswa pendatang makin ramai.

"Mulai ramai mahasiswa kos di sini. Makin banyak orang yang buka lahan untuk dijadikan tempat tinggal," paparnya.

Bahkan perumahan-perumahan juga mulai menjamur.

"Dulu di sini tahun 90an hanya ada satu perumahan. Sekarang mungkin sudah lebih dari empat perumahan," jelas Sohib.

Hal tersebut yang memicu kondisi masyarakat tak lagi homogen.

"Sekarang tidak lagi homogen. Kami heterogen berbaur dengan pendatang. Inilah kami," ujar Sohib yang juga seorang pendatang dari Kepulauan Riau ini.

Untuk itu diambil tema Wiwit Srawung untuk merekatkan silaturahmi antarwarga. "Karena aktivitas yang seperti orang kota dengan berbagai macam kesibukan, Kedekatan antarpribadi makin renggang," kata Sohib.

"Kami jarang ada kegiatan untuk temukan warga di delapan RT. Nanti bisa terjadi keterasingan. Maka kami temukan konsep merti dusun ini, kami modifikasi," ujarnya. (tribunjogja)

Penulis: amg
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help