PKM STIE IEU Kembangkan Desa Oksigen Berbasis Masyarakat

Era teknologi informasi dan kehadiran media sosial mampu mendorong kehadiran desa wisata dapat dikembangkan sesuai potensi sebuah wilayah.

PKM STIE IEU Kembangkan Desa Oksigen Berbasis Masyarakat
dokpri/Kunto Wibisono
POTENSI - Anak-anak di Dusun Pentingsari, Desa Pakembinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman DIY berlatih karawitan. 

TRIBUNJOGJA.COM - Era Teknologi Informasi dan kehadiran berbagai social media yang semakin 'merakyat' mendorong kehadiran desa wisata cenderung lebih dapat dikembangkan sesuai potensi yang dimiliki. Juga kehadiran media sosial (medsos) mempunyai prospek untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Saat ini, medsos membutuhkan banyak lokasi yang instagrammable dan menarik untuk dijadikan tempat berfoto. Masuknya wisatawan luar daerah, lebih-lebih mancanegara, dapat menjadi nilai lebih bagi suatu kawasan, dengan tetap mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal.

Berangkat dari latar belakang tersebut, Tim Pengabdian Masyarakat STIE Isti Ekatana Upaweda (STIE IEU) dan Akparda Yogyakarta melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dari Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat DRPM Dikti menyelenggarakan kegiatan Pengembangan Desa Oksigen Berbasis Masyarakat.

Untuk mendukung pengembangan Desa Wisata Oksigen sebagai Pusat Wisata Kesehatan Berbasis Masyarakat (Community Based Tourism), PKM ini mengambil dua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di dua dusun berbeda, yaitu Dusun Banjarsari dan Pentingsari, Desa Pakembinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman DIY.

Di dusun itu diterjunkan Tim Pengabdian Masyarakat terdiri tiga orang, yakni Kunto Wibisono dan Adriana Yustina Nora (STIE IEU) dan I Ketut Suardana (Akparda Yogyakarta). Banjarsari dan Pentingsari merupakan dusun yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata berbasis masyarakat, mengingat kondisi pemandangan alam dan lingkungan yang masih alami dengan kondisi udara masih segar dan jauh dari polusi.

Untuk Dusun Pentingsari, saat ini, sudah menjadi diantara destinasi wisata dengan berbagai objek berbasis masyarakat yang menarik wisatawan lokal maupun mancanegara. Kegiatan PKM ini dilakukan, mengingat di kedua dusun tersebut sudah banyak potensi yang dapat dikembangkan.

Diantaranya, mulai kesenian tradisional meliputi kesenian jathilan dan beragam kesenian lainnya, produk makanan olahan tradisional mulai dari makanan tradisional hingga pengolahan kopi, rumah makan, kunjungan wisata ke sawah, perkebunan hidroponik, kegiatan outbond, family gathering, dan beragam kegiatan wisata lain yang sangat potensial untuk dikembangkan lebih lanjut.

Untuk mengembangkan kondisi di Dusun Banjarsari, PKM bekerja sama masyarakat sekitar membangun fasilitas fisik, tiga buah gazebo dan penyediaan fasilitas outbond sederhana sebagai sarana pendukung kehadiran wisatawan yang selama ini sudah sering mengunjungi objek wisata di Banjarsari. Taman dan pengecatan pagar di sekitar lokasi outbond juga dibangun untuk mempercantik tampilan sekitar.

Selain fasilitas fisik tersebut, pengembangan SDM di Banjarsari juga diselenggarakan pelatihan Manajemen Desa Wisata dan memberikan website dan pelatihan untuk administrator website sebagai sarana marketing kedepan.

Pengembangan di Dusun Pentingsari juga dilaksanakan, namun karena kondisi di dusun ini sudah lebih terkondisi sebagai Desa Wisata, PKM dilakukan melalui pelatihan Manajemen Desa Wisata dan menyediakan website dan pelatihan bagi administrator website untuk pengembangan pemasaran Dusun Pentingsari lebih lanjut. (*)

Editor: ayu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved