Citizen Reporter

Papan Peredam Bunyi dari Limbah Sabut Kelapa dan Serat Daun Nanas Karya Mahasiswa UMS Lolos Pimnas

Limbah sabut kelapa dan serat daun nanas dapat dijadikan alternatif dalam pembuatan material peredam bunyi karena pada tahun 2015

Papan Peredam Bunyi dari Limbah Sabut Kelapa dan Serat Daun Nanas Karya Mahasiswa UMS Lolos Pimnas
ist
Angger Kusuma Riza Pawestri, Wasni Hasanah, Arianto Murphy Tim PKM UMS 

PENINGKATAN teknologi di Indonesia diiringi dengan meningkatnya peralatan yang digunakan dalam industri, transportasi, komunikasi dan hiburan yang menghasilkan suara-suara yang tidak di inginkan sehingga menimbulkan kebisingan.

Suara yang dihasilkan dapat berdampak pada menurunnya produktivitas dan kenyamanan dalam bekerja ataupun belajar (Mutia et al., 2016).

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kebisingan adalah dengan menggunakan material peredam suara.

Umumnya peredam suara masih menggunakan serat sintetis yang mudah korosi, mahal, dan tidak ramah lingkungan.

Selain itu, serat sintetis juga merupakan produk impor yang pada tahun 2015 mencapai 603.000 ton/tahun (BPS, 2015).

Untuk itu perlu adanya inovasi material peredam bunyi yang murah dan ramah lingkungan.

Limbah sabut kelapa dan serat daun nanas dapat dijadikan alternatif dalam pembuatan material peredam bunyi karena pada tahun 2015, limbah serabut kelapa mencapai 1,8 juta ton/tahun dan untuk limbah daun nanas mencapai 143.000 ton/tahun.

Karena belum termanfaatkan dengan baik, maka Angger Kusuma Riza Pawestri dkk mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta mengkombinasi serat sabut kelapa dan serat daun nanas menjadi papan peredam bunyi yang ramah lingkungan.

Melalui Program Kreativitas Mahasiswa tahun 2018, penelitian ini dilaksanakan dan didapatkan hasil pada komposisi 60% sabut kelapa dan 40% serat daun nanas memiliki nilai koefisien absorbsi bunyi sebesar 0,76 pada frekuensi 1500 Hz.

Hasil ini telah melampaui standar ISO 11654 yang mengisyaratkan bahwa koefisien absorbsi bunyi papan peredam bunyi harus lebih besar dari 0,15.

Jika dibandingkan dengan peredam sintetik yang hanya memiliki koefisien 0,75 pada frekuensi 1600 Hz maka penelitian ini diharapkan mampu menggantikan peredam bunyi sintetik dipasaran karena selain murah dan ramah lingkungan juga kemampuan dalam meredam bunyi sudah menyamai dengan peredam bunyi sintetik.

Dengan hasil penelitian ini, Angger Kusuma Riza Pawestri dkk berhasil mengantongi tiket PIMNAS 31 yang akan diselenggarakan di Yogyakarta pada 28 Agustus mendatang. (*)

 *Oleh: Angger Kusuma Riza Pawestri, Wasni Hasanah, Arianto Murphy, Ir. Nur Hidayati, Ph.D. Tim PKM Universitas Muhammadiyah Surakarta

Editor: ribut raharjo
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved